Jelang Pilpres Brasil, Flavio Bolsonaro dan Lula Sama Kuat



KONTAN.CO.ID - SAO PAULO. Ribuan pendukung kubu kanan Brasil turun ke jalan pada Hari Kemerdekaan, Senin (7/9/2026), untuk mendukung kandidat presiden Flavio Bolsonaro sekaligus memprotes pemerintahan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva dan Mahkamah Agung.

Aksi yang digelar di Paulista Avenue, Sao Paulo, itu menjadi panggung kampanye bagi Flavio menjelang pemilihan presiden putaran pertama pada 4 Oktober 2026.

Peneliti dari Monitor do Debate Politico, Universitas Sao Paulo, memperkirakan sekitar 28.500 orang menghadiri demonstrasi tersebut.


Momentum aksi datang ketika persaingan Flavio dan Lula semakin ketat. Jajak pendapat Quaest yang dirilis Senin menunjukkan Lula dan Flavio sama-sama memperoleh dukungan 41% dalam skenario putaran kedua yang dijadwalkan berlangsung pada 25 Oktober.

Baca Juga: Relasi Memburuk, Brasil Turunkan Hubungan Bilateral dengan Argentina, Ada Apa?

Flavio memanfaatkan konflik yang tengah memanas di Mahkamah Agung untuk menyerang Lula. Ia juga kembali mengangkat kasus yang menjerat ayahnya, Jair Bolsonaro, mantan presiden Brasil yang kini menjalani tahanan rumah dan dilarang mencalonkan diri.

"Koalisi Lula dan Moraes ini akan berakhir," kata Flavio kepada para pendukungnya.

"Siapa pun yang memilih Lula berarti memilih Alexandre de Moraes," tambahnya.

Moraes merupakan salah satu hakim Mahkamah Agung Brasil yang paling kontroversial di kalangan pendukung Bolsonaro.

Ia memimpin proses hukum terhadap Jair Bolsonaro terkait dugaan upaya kudeta pada 2023 hingga mantan presiden tersebut dinyatakan bersalah pada 2025.

Isu Mahkamah Agung kembali mencuat setelah hakim Andre Mendonca, yang ditunjuk Jair Bolsonaro, mengungkap laporan yang mempertanyakan dugaan komunikasi antara Moraes dan seorang bankir yang dituduh memimpin skema penipuan bernilai miliaran dolar. Laporan tersebut memicu seruan agar Moraes diselidiki.

Baca Juga: Gandeng Perusahaan AS dan China, Brasil Perkuat Investasi Untuk Ekosistem AI

Moraes kemudian meminta penyelidikan terhadap Mendonca atas dugaan penyalahgunaan wewenang.

Bagi kubu Bolsonaro, persoalan tersebut menjadi amunisi untuk menggambarkan pemerintahan Lula dan Mahkamah Agung sebagai bagian dari sistem politik yang harus dilawan.

"Tak ada Lula tanpa Alexandre, dan tak ada Alexandre tanpa Lula. Karena itu kami mengatakan: Lula keluar, Moraes keluar," ujar calon wakil presiden Flavio, anggota parlemen Alfredo Gaspar, kepada massa.

Aksi tersebut juga menjadi upaya Flavio menghidupkan kembali tradisi demonstrasi besar yang menjadi ciri khas politik ayahnya. Namun, jumlah peserta kali ini masih jauh di bawah mobilisasi pendukung Jair Bolsonaro dalam beberapa tahun terakhir.

Demonstrasi serupa pada tahun lalu diperkirakan dihadiri sekitar 42.000 orang. Sementara aksi yang dipanggil Jair Bolsonaro pada awal 2024 menarik sekitar 185.000 pendukung.

Baca Juga: Brasil Tolak Visa Dua Pejabat AS Jelang Pemilu Presiden

Sejumlah demonstran membawa bendera Brasil, Amerika Serikat dan Israel. Massa juga dimeriahkan balon raksasa berbentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menggambarkan Lula berada dalam kondisi terpenjara.

Di sisi lain, Lula menghadiri parade militer tahunan Hari Kemerdekaan di Brasilia tanpa menyampaikan pidato. Sehari sebelumnya, ia menyampaikan pidato kepada masyarakat melalui televisi dengan menekankan pentingnya kedaulatan nasional.

"Mempertahankan kemerdekaan Brasil berarti mempertahankan kedaulatan dan demokrasi kita," ujar Lula.

Persaingan menuju pemilu kini diperkirakan semakin sengit.

Dengan elektabilitas yang berimbang, isu penegakan hukum, konflik dengan Mahkamah Agung dan warisan politik Jair Bolsonaro berpotensi menjadi faktor penting dalam pertarungan Lula melawan Flavio pada Oktober mendatang.