KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor pasar modal Indonesia bersiap menyambut pengumuman hasil review Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan pada 13 Agustus 2026 pukul 04.00 WIB. Namun, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai fokus investor tidak hanya akan tertuju pada potensi perubahan komposisi indeks, tetapi juga pada arah kebijakan MSCI terhadap aksesibilitas dan
investability pasar saham Indonesia
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan investor perlu mencermati apakah MSCI mulai memberikan sinyal pelonggaran terhadap perlakuan khusus atau pembekuan yang saat ini masih diterapkan terhadap saham Indonesia.
Baca Juga: Sarana Menara (TOWR) Raih Kredit Rp 1,5 Triliun dari CIMB Niaga, Ini Tujuannya "Investor sebaiknya tidak hanya melihat index
inclusion atau
exclusion, tetapi mencermati arah kebijakan MSCI terhadap
investability dan market
accessibility Indonesia," kata Rully dalam keterangan resminya, Selasa (11/8/2026). Rully menjelaskan, salah satu poin yang patut diperhatikan ialah terkait MSCI mulai memberi sinyal pelonggaran atas pembekuan kenaikan
Foreign Inclusion Factor (FIF) dan
Number of Shares (NOS) yang selama ini diterapkan pada saham-saham Indonesia. Selain itu, ada tidaknya peluang penambahan maupun migrasi saham Indonesia ke indeks
investable juga menjadi hal yang tak kalah penting untuk disimak. Di luar itu, pandangan MSCI soal transparansi,
free float, serta keterbukaan struktur kepemilikan saham emiten turut menjadi sorotan. Menurut Rully, persoalan ini punya dampak yang lebih panjang lantaran menyangkut kemampuan investor global menila
i free float secara akurat dan membentuk harga saham secara wajar. "Persoalan Indonesia bukan lagi sekadar masalah index
rebalancing, tetapi menyangkut apakah investor global dapat menilai secara akurat free float dan membentuk harga secara wajar," ujarnya. Lebih lanjut, Rully menyebut keputusan MSCI kali ini juga akan memberi gambaran soal timeline normalisasi perlakuan terhadap pasar Indonesia. Bila MSCI menganggap reformasi yang digulirkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah cukup kredibel, dampaknya berpotensi lebih positif bagi pasar ketimbang sekadar perubahan konstituen indeks. Sebaliknya, jika special treatment terus diperpanjang tanpa roadmap yang jelas, investor asing berisiko tetap mematok premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset-aset Indonesia.
Fundamental Ekonomi Masih Jadi Penopang
Di sisi lain, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin menilai fundamental ekonomi domestik masih cukup solid untuk menopang pasar saham. Ia mencatat, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 mencapai 5,29% secara tahunan (yoy), melampaui ekspektasi pasar yang sebesar 5,1%. Kinerja emiten sepanjang semester I-2026 pun masih mencatatkan pertumbuhan.
Baca Juga: Laba Total Bangun (TOTL) Melonjak 54,6%, Ditopang Kenaikan Pendapatan di Semester I Meski begitu, Wilbert mengingatkan perhatian pasar ke depan akan bergeser pada kemampuan Indonesia mempertahankan momentum pertumbuhan tersebut, di tengah mulai munculnya tanda-tanda perlambatan serta tekanan kenaikan suku bunga terhadap laju pertumbuhan kredit. "Faktor yang akan menggerakkan
market adalah seberapa besar momentum ini dapat dipertahankan mengingat tanda-tanda pelemahan mulai terlihat di ujung semester I-2026, ditambah kenaikan suku bunga yang berpotensi menekan kredit usaha," jelas Wilbert. Ia menambahkan, kondisi neraca eksternal dan fiskal juga tak kalah penting untuk dicermati karena akan memengaruhi persepsi pasar terhadap
credit rating Indonesia. Selama fundamental tersebut tetap terjaga, perhatian investor selanjutnya diperkirakan akan kembali tertuju pada keputusan MSCI menjelang November mendatang, yang jika membawa sinyal positif berpotensi menjadi titik balik bagi arus modal asing ke pasar Indonesia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News