KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan respons menjelang pengumuman review lembaga pemeringkatan global MSCI. Seperti diketahui, MSCI akan mengumumkan hasil August 2026 Index Review pada Kamis (13/8/2026) dini hari waktu Indonesia. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik mengatakan, seluruh keputusan terkait
inclusion/exclusion saham maupun freeze/unfreeze review merupakan kewenangan MSCI. Bursa pun menghormati apa pun kewenangan dari MSCI.
Baca Juga: IHSG Menguat, Pasar Menanti Hasil Rebalancing MSCI Namun, Bursa juga sudah melakukan komunikasi dengan MSCI terkait apa yang sudah dilakukan terkait reformasi pasar modal Indonesia. “Harapan kami adalah global index provider akan bisa melihat ini sebagai wujud dari komitmen kami menghadirkan pasar yang lebih kredibel dan dapat segera memberikan keputusan yang baik bagi seluruh investor dan seluruh stakeholders di pasar modal Indonesia,” ujarnya dalam Konferensi Pers RUPSLB BEI, Rabu (12/8/2026). Jeffrey pun kembali merinci hal yang sudah dilakukan BEI dan self regulatory organization Tanah Air dalam transformasi tersebut.
Pertama, SRO telah meningkatkan transparansi dengan mengungkapkan kepemilikan saham di atas 1% kepada publik.
Kedua, menyajikan data informasi terkait dengan tipe investor yang lebih granular, dari sebelumnya hanya 9 tipe investor, saat ini menjadi 39 tipe dan sub-tipe investor.
Ketiga, menerbitkan Peraturan Bursa 1-A yang mengatur tentang ketentuan minimum free foat, dari 7,5% menjadi 15%. Bursa memberikan waktu 12 sampai 36 bulan bagi perusahaan tercatat untuk memenuhi ketentuan baru tersebut. Sedangkan, perusahaan tercatat baru sudah harus memenuhi peraturan baru.
Keempat, menerbitkan daftar high shareholding concentration (HSC) untuk memberikan informasi kepada investor saham-saham yang terindikasi kepemilikannya terkonsentrasi. Bursa menegaskan, transformasi tersebut akan dilakukan berkelanjutan. Misalnya, terkait publikasi kepemilikan saham 1%, di awal penerbitan Bursa hanya memberikan informasi terkait nama pemegang saham yang memiliki kepemilikan di atas 1%.
Baca Juga: Investor Menanti Keputusan MSCI, Cek Proyeksi IHSG dalam Jangka Pendek hingga Panjang Namun, di publikasi terakhir sudah ada tambahan satu kolom tipe investor yang dikaitkan dengan pemegang saham di atas 1% tersebut. Ke depan, Bursa juga akan menambahkan satu kolom lagi yang memberikan informasi apakah pemegang saham 1% ke atas tersebut adalah pihak yang terafiliasi atau tidak. “Ini akan kami lakukan terus untuk memberikan kemudahan bagi publik untuk bisa menggunakan data yang kami publikasikan itu untuk keputusan investasinya,” paparnya. Lalu, terkait daftar HSC, di awal penerbitan Bursa hanya menggunakan trigger factors sebagai bagian dari metodologi yang dilakukan. Kemudian, pada pertengahan bulan Juli 2026 Bursa melakukan pembaruan dari metodologi yang digunakan untuk menentukan
high shareholding concentration. Di antaranya adalah menambahkan
universe dari seluruh saham yang memiliki nilai kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Hal itu, kata Jeffrey, untuk mengukur price impact ratio yang memperhitungkan velocity dari volume perdagangan saham-saham tersebut di ursa untuk kemudian dilakukan screening apakah ada indikasi kepemilikan yang terkonsentrasi atau tidak. “Upaya-upaya perbaikan seperti itu akan terus kami lakukan ke depannya, sehingga komitmen untuk meningkatkan transparansi, meningkatkan tata kelola dan kredibilitas dari pasar akan dapat setara atau menerapkan standar-standar best practice yang sudah berlaku secara internasional,” paparnya. Jeffrey mengakui bahwa sejumlah
index provider global dan investor asing sudah memberikan respons positif terkait langkah transformasi pasar modal Indonesia.
Menurutnya, FTSE sudah menegaskan Indonesia ada di
emerging market sedangkan MSCI dalam laporan terakhirnya juga sudah mengakui apa yang kita lakukan dan memberikan apresiasi. “Harapan kami adalah MSCI, FTSE, dan global
index provider lainnya juga akan kemudian pada waktunya memberikan keputusan yang baik,” katanya.
Baca Juga: Valuasi Saham Alfamart (AMRT) Murah, tapi Ada Risiko dari MSCI dan KDMP Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News