Jelang Rilis Data BPS, INDEF Proyeksi Ekonomi Kuartal III 2026 Hanya Tumbuh 5%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 diperkirakan mengalami perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya. Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 4,9%-5,1% secara tahunan atau year on year (yoy), dengan titik tengah sebesar 5%.

Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 yang mencapai 5,29% yoy.

"Saya memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 sebesar 4,9% yoy - 5,1% yoy dengan titik tengah 5% lebih rendah dari kuartal II sebesar 5,29% yoy," ujar Rizal kepada Kontan, Selasa (3/11/2026). Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 pada Kamis (5/11/2026). 


Baca Juga: Jelang Pengumuman BPS, Ekonomi RI Kuartal III-2026 Diprediksi Tumbuh 5%

Menurut Rizal, konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi. Namun, momentum konsumsi masyarakat dinilai masih terbatas sehingga belum cukup kuat untuk mendorong akselerasi pertumbuhan.

Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan penjualan eceran pada Juli-Agustus 2026 yang hanya berada di kisaran 1,1%-1,3%. Selain itu, indeks kondisi ekonomi saat ini juga turun menjadi 107,5 pada September 2026. "Optimisme masyarakat belum cukup kuat diterjemahkan menjadi belanja riil," ujar Rizal.

Di sisi lain, sejumlah faktor diperkirakan masih menopang pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026. Faktor tersebut antara lain konsumsi rumah tangga, investasi, serta perbaikan kinerja sektor manufaktur.

Rizal menjelaskan, perbaikan sektor manufaktur tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang meningkat menjadi 52,4 pada September 2026, dari posisi 49,8 pada Agustus 2026.

Meski demikian, ia menilai kenaikan PMI dalam satu bulan belum cukup untuk memastikan penguatan aktivitas manufaktur akan berlangsung secara konsisten sepanjang kuartal III-2026.

Selain itu, risiko bencana juga berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi, terutama melalui gangguan terhadap produksi pertanian, distribusi barang, perdagangan, hingga sektor pariwisata di wilayah terdampak.

Menurut Rizal, besarnya dampak bencana terhadap pertumbuhan ekonomi nasional akan bergantung pada skala dan durasi gangguan yang ditimbulkan.

Di samping itu, belanja untuk pemulihan pascabencana memang dapat membantu menjaga aktivitas ekonomi. Namun, pengeluaran tersebut menurutnya tidak otomatis mampu menggantikan nilai produksi maupun pendapatan masyarakat yang hilang akibat bencana.

Baca Juga: Titik Api Karhutla Melonjak di Kalteng dan Sumsel, Ini Data BNPB

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News