KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjelang rilis laporan data inflasi di Amerika Serikat (AS), saham-saham di AS menguat pada Senin kemarin (13/2). Padahal, seminggu sebelumnya bursa saham di AS sempat anjlok, bahkan menjadi yang terburuk sepanjang tahun 2023 ini. Investor juga tengah waspada dan berhati-hati menanti laporan data inflasi. Seperti dilansir Yahoo Finance pada Selasa (14/2), S&P 500 (GSPC) naik sekitar 1,2%, sementara Dow Jones Industrial Average (DJI) melonjak 380 poin, atau 1,1%. Nasdaq Composite (IXIC) yang berbasis teknologi naik 1,5%. Sebelumnya, saham Fidelity National Information Services (FIS) anjlok 12,5% menyusul berita bahwa perusahaan pembayaran ini berencana untuk memisahkan bisnis merchant-nya dan mengalami kerugian sebesar US$17,6 miliar setelah akuisisi yang gagal.
Baca Juga: Menanti Laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) AS, Akankah Pasar Saham Terpukul? Pada minggu depan, para investor akan mendapatkan hasil laporan keuangan dari emiten-emiten unggulan seperti Airbnb (ABNB), Coca-Cola (KO), DraftKings (DKNG), Paramount Global (PARA), dan Deere (DE). Adapun, pada hari Jumat (10/2), saham AS menutup kinerja mingguan terburuk mereka di tahun 2023. S&P 500 ditutup turun 1,1% untuk minggu ini, Dow Jones Industrial Average 0,2%, dan Nasdaq Composite 2,4%. Sementara itu, para ekonom memperkirakan Consumer Price Index (CPI) utama akan naik 0,5%. Laporan CPI minggu ini mengkalibrasi ulang ekspektasi suku bunga tinggi akan terjadi di tahun ini setelah Ketua The Fed Jerome Powell menyiratkan dalam pidatonya minggu lalu akan ada pertempuran melawan inflasi. Adapun, hampir sepanjang tahun ini, banyak yang bertaruh bahwa bank sentral AS akan menghentikan kampanye kenaikan suku bunganya tahun ini. "Proses ini akan memakan waktu yang cukup lama, dan tidak akan berjalan mulus," ujar Powell dalam sebuah wawancara dengan miliarder investor David Rubenstein di Economic Club of Washington, D.C., pada hari Selasa lalu. "Kami mungkin perlu melakukan kenaikan suku bunga tambahan," sambungnya.