Jelang RUPS, BBCA Konsisten Bagikan Dividen Lebih Dari 65% Laba, Begini Hitungannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Menjelang pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) esok, Kamis (12/3),  PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu emiten yang paling dipantau pelaku pasar.

Salah satu agenda yang paling dinanti investor adalah keputusan penggunaan laba bersih tahun buku 2025, terutama terkait besaran dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham. Selama ini, BBCA dikenal sebagai salah satu emiten yang konsisten membagikan dividen dengan rasio relatif tinggi.

Beberapa tahun terakhir, bank swasta terbesar di Indonesia tersebut secara rutin menyalurkan sekitar 68%–70% laba bersih sebagai dividen. Konsistensi ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi investor yang mencari saham dengan profil pendapatan stabil.


BBCA membagikan dividen final Rp300 per saham atau senilai Rp 36,98 triliun untuk tahun buku 2024. Nilai tersebut setara dengan 67,4% dari laba bersih tahun 2024.

Sementara di 2025, BBCA telah membagikan dividen interim sebesar Rp 55 per saham atau sekitar Rp 6,77 triliun. Dengan laba bersih yang tercatat mencapai Rp 57,5 triliun pada 2025—naik 4,9% secara tahunan—potensi dividen yang dibagikan tahun ini juga diperkirakan lebih tinggi.

Jika rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) sekitar 70% dari laba tersebut, maka total dividen yang berpotensi dibagikan dapat mencapai sekitar Rp 40,25 triliun.

Pembagian dividen tersebut dinilai dapat menjadi katalis positif bagi saham BBCA yang sempat mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Dengan potensi dividen yang besar, imbal hasil dividen (dividend yield) saham BBCA menjadi lebih menarik, terutama bagi investor yang berorientasi pada pendapatan jangka panjang.

Dari sisi fundamental, kinerja BBCA sepanjang 2025 dinilai tetap solid. Berdasarkan riset Samuel Sekuritas Indonesia, pertumbuhan laba bersih dinilai sejalan dengan ekspektasi analis dan mencerminkan ketahanan model bisnis BCA di tengah dinamika ekonomi serta industri perbankan.

Analis Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi dan Brandon Boedhiman menilai, pertumbuhan laba terutama ditopang peningkatan pendapatan operasional sebelum pencadangan alias pre-provision operating profit (PPOP).   Disiplin dalam pengelolaan biaya operasional turut menjaga efisiensi sehingga profitabilitas tetap terjaga.

Meski demikian, bank ini juga menghadapi tantangan pada margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Sepanjang 2025, NIM BBCA tercatat berada di kisaran 5,7%, sedikit menurun dibandingkan periode sebelumnya. Hal tersebut dipengaruhi oleh dinamika suku bunga serta penyesuaian pada yield aset.

Baca Juga: Saham Big Banks Kompak Menghijau Kamis (5/3), BBCA Catat Kenaikan Tertinggi

Kualitas aset BBCA sendiri tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada di kisaran 1,7%, mencerminkan profil risiko yang terkendali.

Pada kuartal IV 2025, rasio NPL bruto menurun menjadi 1,7% dari 2,1% pada kuartal III 2025. Sementara itu, loan at risk (LAR) membaik menjadi 4,8% dan cakupan pencadangan terhadap NPL (NPL coverage) meningkat menjadi 184%.

“Sepanjang tahun 2025, biaya kredit (credit cost) tercatat sebesar 42 basis poin (bps), masih berada dalam kisaran panduan manajemen. Hal ini mencerminkan praktik underwriting yang konservatif serta manajemen risiko yang proaktif,” tulis Prasetya dan Brandon dalam laporan riset dikutip Rabu (11/3). 

Selain kualitas kredit, kekuatan permodalan BBCA juga menjadi sorotan. Menurut analis, posisi modal bank ini tetap sangat kuat dengan rasio Common Equity Tier 1 (CET1) sebesar 29,2% dan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 30,4%.

Kondisi tersebut memberikan ruang yang memadai bagi perseroan untuk mendukung pertumbuhan bisnis sekaligus menyerap potensi volatilitas makroekonomi hingga tahun 2026.

Kombinasi antara profitabilitas yang konsisten, kualitas aset yang solid, serta kebijakan dividen yang stabil membuat saham BBCA tetap menjadi salah satu favorit investor. Tidak mengherankan jika menjelang RUPST, pergerakan saham bank ini kembali menjadi sorotan pelaku pasar.

Ke depan, keputusan pembagian dividen dalam RUPST akan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi sentimen investor terhadap saham BBCA. Jika rasio pembayaran dividen tetap tinggi seperti tahun-tahun sebelumnya, maka potensi dividen besar dapat menjadi daya tarik tambahan di tengah kondisi pasar saham yang masih diliputi volatilitas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News