KONTAN.CO.ID - MAKKAH. Kementerian Haji dan Umrah menyampaikan pergerakan jemaah haji Indonesia dari hotel di Makkah menuju Arafah akan mulai dilakukan secara bertahap pada 8 Zulhijjah 1447 Hijriah. Perjalanan menuju lokasi wukuf tersebut dibagi dalam tiga gelombang untuk menjaga kelancaran mobilitas jemaah menjelang puncak ibadah haji.
Baca Juga: Sehari Menuju Arafah, Jemaah Haji Indonesia Diminta Jaga Fisik dan Stamina Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah Maria Assegaf mengatakan, pemberangkatan jemaah menuju Arafah dijadwalkan dalam tiga trip, yakni pukul 07.00 pagi, 11.30 siang, dan 16.30 sore waktu Arab Saudi (WAS). Maria mengimbau seluruh jemaah agar mematuhi jadwal keberangkatan yang telah ditentukan petugas kloter maupun petugas sektor. Jemaah juga diminta mengikuti arahan pembimbing ibadah dan seluruh petugas lapangan agar proses pergerakan berlangsung tertib dan aman. “Jangan bergerak sendiri dan jangan mendahului jadwal, kami harapkan untuk tidak terpisah dari rombongan, tetap bersama dengan rombongan,” ujar Maria dalam konferensi pers, Minggu (24/5/2026).
Baca Juga: Pemerintah dan Bos GoTo Bahas Kenaikan Pendapatan Driver Online hingga 92% Menurut Maria, fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) merupakan tahapan paling krusial dalam penyelenggaraan ibadah haji karena melibatkan mobilitas jutaan jemaah dalam waktu bersamaan. Karena itu, seluruh layanan pendukung Armuzna terus dimatangkan, mulai dari kesiapan tenda di Arafah dan Mina, pengaturan penempatan jemaah, transportasi, layanan kesehatan, konsumsi, hingga penempatan petugas di berbagai titik layanan. Kementerian Haji dan Umrah juga mengajak seluruh jemaah dan petugas untuk saling peduli selama proses Armuzna berlangsung. Jemaah diimbau segera membantu apabila melihat sesama jemaah berjalan sendiri, tampak kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongan.
Baca Juga: Aliansi Ekonom Ragukan Angka Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 Jika menemukan jemaah yang membutuhkan bantuan, Maria meminta agar segera diarahkan ke petugas terdekat, pos layanan, atau dilaporkan kepada petugas sektor dan petugas kloter. Perhatian khusus juga diberikan kepada jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, serta jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu agar tidak berjalan tanpa pendampingan. Menurut Maria, kepedulian antarjemaah menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko jemaah tersesat atau terpisah dari kelompok selama proses Armuzna.
Ia menegaskan Kementerian Haji dan Umrah terus berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi, PPIH Arab Saudi, petugas kloter, petugas sektor, dan seluruh unsur layanan guna memastikan pelaksanaan puncak ibadah haji berjalan optimal.
Baca Juga: Rupiah Tak Stabil Bikin Investor Asing Tahan Ekspansi ke Indonesia “Kami mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk dapat mendoakan kelancaran pelaksanaan ibadah haji tahun ini, khususnya menjelang fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, kekuatan, keselamatan, dan kemudahan bagi seluruh jemaah haji Indonesia,” tutup Maria. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News