Jemaah Haji Kini Dapat Perlindungan Tambahan dari Risiko Cuaca Ekstrem



KONTAN.CO.ID – MADINAH. Otoritas Arab Saudi memperluas cakupan perlindungan asuransi bagi jemaah haji selama fase puncak ibadah.

Perluasan ini mencakup penanganan risiko gangguan kesehatan akibat suhu ekstrem, seperti kram panas, kelelahan akibat paparan panas berlebih, hingga heat stroke.

Sebagaimana diketahui, cuaca di Arab Saudi saat puncak haji tahun ini diperkirakan dapat mencapai 42°C hingga 47°C di Makkah dan Madinah.


Baca Juga: Jelang Miqat di Bir Ali, Jemaah Haji Diingatkan Soal Larangan Berihram

Kepala Seksi Kesehatan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja Makkah Edi Supriyatna mengatakan, informasi tersebut telah disampaikan otoritas Saudi kepada Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).

Ia menambahkan, terdapat penyesuaian klausul dalam skema asuransi kesehatan jemaah pada penyelenggaraan haji tahun ini.

Khusus pada 8 hingga 13 Dzulhijjah atau masa puncak haji, jemaah dapat memanfaatkan asuransi apabila mengalami kram panas (heat cramps), kelelahan akibat panas (heat exhaustion), dan serangan panas (heat stroke).

“Jika terjadi diagnosis tersebut pada periode itu, maka bisa diklaim melalui asuransi. Namun, jika sakit terjadi sebelum 8 Dzulhijjah atau setelah 13 Dzulhijjah, biaya pengobatan ditanggung sendiri oleh jemaah dan tidak dapat diklaim asuransi,” ujar Edi saat diwawancarai pada Rabu (29/4/2026).

Baca Juga: BPK Temukan 356 IUP Habis Masa Berlaku Belum Pulihkan Lingkungan

Adapun heat cramps merupakan kondisi kram otot yang menyakitkan saat cuaca panas akibat hilangnya cairan dan elektrolit (garam) melalui keringat. Kondisi ini umumnya terjadi pada otot perut, betis, atau tangan.

Sementara itu, heat exhaustion adalah kelelahan ekstrem akibat paparan suhu tinggi dan dehidrasi. Gejalanya meliputi keringat berlebih, mual, hingga detak jantung yang meningkat.

Sedangkan heat stroke merupakan kondisi paling berbahaya, yakni ketika suhu tubuh meningkat drastis akibat paparan panas ekstrem hingga mencapai sekitar 40°C.

Gangguan pada mekanisme pengaturan suhu tubuh ini dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Edi mengimbau seluruh jemaah haji, baik yang sudah berada di Madinah maupun yang belum berangkat dari Tanah Air, untuk menjaga kesehatan dan mempersiapkan diri menghadapi perbedaan cuaca di Tanah Suci.

Baca Juga: Penerimaan Pajak Naik 20% Disebut Ilusi, Ini Alasannya

Menurutnya, jemaah perlu memahami cara mencegah dehidrasi, salah satunya dengan mengatur pola minum secara teratur.

Selain itu, jemaah juga disarankan membawa perlengkapan untuk membantu meredakan panas, seperti kipas, semprotan air, serta kain atau lap yang dibasahi air.

“Minum itu wajib, sekitar 200 mililiter per jam. Minumnya jangan sekaligus, tapi perlahan, sekitar empat teguk setiap 10 menit. Ini untuk menghindari sering buang air kecil meskipun sering minum,” kata Edi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News