KONTAN.CO.ID – MADINAH. Wajah-wajah haru tampak menghiasi lobi hotel saat jemaah haji Indonesia bersiap meninggalkan Madinah untuk pulang ke Tanah Air. Setelah lebih dari sebulan menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci, mereka membawa pulang bukan hanya oleh-oleh, tetapi juga kenangan spiritual yang akan sulit dilupakan. Bagi banyak jemaah, perjalanan haji tahun ini meninggalkan kesan mendalam. Ada rasa syukur karena mampu menunaikan rukun Islam kelima, sekaligus kesedihan karena harus berpisah dengan dua kota suci yang selama ini hanya mereka impikan untuk dikunjungi. Salah satunya dirasakan Sahril , jemaah asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Perempuan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Suci itu mengaku momen paling berkesan dalam hidupnya adalah saat pertama kali melihat Ka'bah secara langsung.
Baca Juga: Arab Saudi Perketat Pengawasan Visa Nonprosedural, Haji Khusus 2026 Berjalan Lancar Ia mengaku tak mampu menggambarkan perasaannya ketika memasuki Masjidil Haram dan melihat bangunan suci yang selama ini hanya disaksikan melalui layar televisi. "Pas pertama kali masuk Masjidil Haram dan melihat Ka'bah, rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata," ujarnya di Madinah, Senin (15/6/2026). Sahril berangkat haji tanpa pernah menjalankan ibadah umrah sebelumnya. Selama berada di Makkah, ia berhasil menyelesaikan umrah wajib dan beberapa kali umrah sunnah. Meski harus menjalani rangkaian ibadah yang padat dan menguras tenaga, ia merasa bersyukur karena berbagai layanan yang tersedia membantu jemaah menjalankan ibadah dengan lebih nyaman. Menurutnya, layanan bus shalawat menjadi salah satu fasilitas yang paling dirasakan manfaatnya selama berada di Makkah. Ketersediaan armada yang terus beroperasi membuat jemaah tidak kesulitan menuju maupun kembali dari Masjidil Haram. Selain itu, ia juga mengapresiasi pelayanan petugas haji yang dinilai sigap membantu kebutuhan jemaah selama berada di Tanah Suci. Kesan positif serupa disampaikan Sarimin jemaah asal Lombok Tengah yang tergabung dalam Kloter LOP 12. Menurutnya, pelayanan yang diterima selama berada di Makkah maupun Madinah jauh lebih baik dibandingkan cerita yang pernah ia dengar dari para jemaah yang berhaji pada tahun-tahun sebelumnya. Ia menilai fasilitas hotel, pendampingan petugas, hingga sistem pelayanan secara umum berjalan baik dan sangat membantu jemaah selama menjalankan ibadah. "Pelayanan yang kami rasakan selama di Makkah dan Madinah luar biasa. Hotel bagus dan petugas juga cukup membantu," katanya. Meski demikian, Sarimin berharap masih ada beberapa hal yang dapat terus disempurnakan pada penyelenggaraan haji mendatang. Salah satunya terkait menu konsumsi yang menurutnya terkadang belum sepenuhnya sesuai dengan selera sebagian jemaah Indonesia. Menurut dia, porsi dan kandungan gizi makanan sudah baik. Namun perbedaan bumbu dan cita rasa membuat sebagian makanan tidak selalu habis dikonsumsi jemaah.
Baca Juga: Fase Pemulangan Gelombang I Berakhir, 95.178 Jemaah Haji Indonesia Telah Diterbangkan Selain itu, ia berharap kesempatan berkunjung ke Raudhah di Masjid Nabawi dapat ditambah pada masa mendatang. Baginya, Raudhah merupakan salah satu tempat yang paling dirindukan dan menjadi impian banyak jemaah ketika berada di Madinah.
Di balik berbagai kemudahan yang dirasakan, para jemaah juga mengakui masih ada tantangan yang harus dihadapi selama puncak pelaksanaan ibadah haji. Sahril menuturkan antrean kamar mandi di Mina menjadi salah satu ujian yang cukup menguras kesabaran. Namun ia memilih memandang pengalaman tersebut sebagai bagian dari proses ibadah yang mengajarkan arti kesabaran, toleransi, dan kemampuan beradaptasi dengan ribuan jemaah dari berbagai negara. "Namanya juga ibadah haji, pasti ada ujiannya. Kita bertemu banyak karakter orang, harus saling memahami dan bersabar," tuturnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News