Jendela Demografi Menutup, Perkuat Investasi dan Kesehatan Jadi Kunci
Kamis, 01 Oktober 2026 17:00 WIB
Oleh: Adv Team | Editor: Indah Sulistyorini
KONTAN.CO.ID - Indonesia berada di persimpangan krusial demografi. Puncak bonus demografi yang digadang sebagai potensi besar dalam pengembangan SDM sejatinya telah terlewati pada 2020. Kini, jendela peluang itu perlahan menutup. Tanpa intervensi strategis, potensi ini berisiko menjadi bom waktu ekonomi, menjerat Indonesia dalam middle-income trap, dan melipatgandakan beban generasi sandwich. Lanskap tersebut menjadi sorotan dalam KONTAN Economic & Demographic Forum 2026. Forum ini digelar merayakan HUT ke-30 KONTAN di Studio 1 Kompas TV, Jakarta pada Selasa, 29 September 2026. Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI), I Gede Dewa Karma Wisana memaparkan, narasi bonus demografi harus dikaji ulang. Metrik rasio ketergantungan telah mencapai titik terendahnya di 2020.
"Puncaknya itu di tahun 2030 dan ini bukan puncak sebenarnya, bukan pintu masuk. Jendela dan pintunya ini mulai menutup pelan-pelan," ungkap Dewa. Kondisi ini diperparah tingginya pengangguran kelompok muda berusia produktif. Rendahnya penciptaan lapangan kerja formal memaksa mereka terserap ke sektor informal dengan pendapatan tidak pasti. Berdasarkan riset Lembaga Demografi FEB UI, Dewa menjelaskan besarnya jumlah penduduk usia produktif belum otomatis menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan 201,06 juta penduduk usia 15–64 tahun atau 69,30% dari total populasi, Indonesia masih menghadapi persoalan produktivitas tenaga kerja, kualitas pekerjaan, serta rendahnya kemampuan masyarakat membangun tabungan dan aset pensiun. Hal tersebut melahirkan pekerja rentan yang sulit menabung dana pensiun. Data LD FEB UI mencatat aset dana pensiun di Indonesia baru 6,7%. Absennya sistem perlindungan pensiun bermuara pada beban berat generasi sandwich. Pada 2045, satu dari lima orang Indonesia masuk kategori lansia, dengan lonjakan lansia di atas 60 tahun dari 33,8 juta menjadi 65 juta jiwa. Untuk itu, menjaga kesehatan finansial menjadi salah satu kunci menghadapi masalah lonjakan lansia di masa depan. Menurut Dewa, generasi muda yang berada di ujung bonus demografi perlu segera meningkatkan literasi keuangan serta mulai melakukan mitigasi finansial sejak dini. Dengan membiasakan diri menyisihkan sebagian dana untuk produk keuangan berjangka panjang, seperti reksa dana atau instrumen investasi lainnya, generasi produktif dapat menghindari pengeluaran konsumtif yang berlebihan. Perubahan paradigma ini krusial agar di masa tua nanti tidak menjadi beban bagi anak cucu, sekaligus memutus rantai siklus generasi sandwich. "Mulai nabung, mulai investasi sekecil apapun. Sekarang mau bekerja di sektor apapun, kita harus mulai menyiapkan tabungan atau mulai mengantisipasi akumulasi modal untuk pada saat nanti kita pensiun," pesan Dewa.
Peluang Silver Economy Sektor Kesehatan
Penuaan penduduk menghadirkan ceruk pasar besar. Chairman & Group CEO Mayapada Healthcare, Jonathan Tahir, menilai silver economy harus dimanfaatkan sebagai aset produktif. Kuncinya pada kemampuan industri menjaga usia harapan hidup agar tetap produktif dan sehat. "Silver economy akan terjadi dalam tahun-tahun mendatang. Yang paling penting adalah, usia bisa makin panjang tapi yang harus kita pastikan adalah usia itu harus tetap usia sehat," ujar Jonathan.
Tantangan terbesarnya adalah penyakit kronis pada usia produktif yang lebih muda. Merujuk data paparannya, kasus Type 2 Diabetes pada usia 15-39 tahun melonjak 56%, naik dari 117 menjadi 183 kasus per 100.000 jiwa. Selain itu, penderita hipertensi kelompok umur 25-34 tahun menyentuh 17,55%. Tren global juga memperlihatkan early-onset cancer meningkat 79% (1990-2019). Beban kesehatan tak lagi menunggu usia tua. Jika penyakit kronis muncul lebih awal dan durasi pengobatan panjang, biaya kesehatan akan meningkat tajam. Silver economy pun berpotensi bergeser dari aset menjadi beban. Kondisi ini menuntut transformasi strategi dari sekadar kuratif menjadi preventif guna memperpanjang healthspan. "Paling bagus dan bermanfaat untuk me-reduce cost ke depannya adalah preventive. Karena kalau kita preventive, kita akan memastikan bahwa potensi komplikasi dan komorbiditasnya itu lebih rendah ke depannya," jelas Jonathan. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News