KONTAN.CO.ID - CEO Nvidia Jensen Huang menegaskan, perusahaan memiliki kapasitas pasokan yang memadai untuk memenuhi pertumbuhan permintaan yang kuat baik untuk
central processing unit (CPU) maupun graphics processing unit (GPU), seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pernyataan tersebut disampaikan Huang dalam konferensi pers Nvidia pada ajang Computex di Taipei, Taiwan, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga: Australia Resmi Naikkan Upah Minimum 4,75%, Jangkau 3 Juta Pekerja Pernyataan itu muncul sehari setelah Nvidia memperkenalkan chip terbaru yang mampu menjalankan kemampuan AI secara langsung di perangkat komputer pribadi. Chip baru tersebut, yang dijadwalkan meluncur pada musim gugur tahun ini, memungkinkan pemrosesan AI dilakukan langsung di laptop dan komputer desktop tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pusat data (data center). Langkah ini memperluas persaingan Nvidia dengan para pemain besar industri semikonduktor seperti AMD, Intel, dan Apple. Huang menjelaskan bahwa chip PC RTX Spark merupakan bagian dari kolaborasi Nvidia dengan Microsoft untuk menghadirkan generasi baru komputer yang dirancang khusus untuk era AI. “RTX Spark PC merupakan bagian dari upaya kami bersama Microsoft untuk menciptakan kembali PC bagi era kecerdasan buatan,” ujar Huang melansir
Reuters.
Baca Juga: Inflasi Korsel Sentuh Level Tertinggi 2 Tahun, Peluang Kenaikan Suku Bunga Menguat Permintaan AI Terus Melonjak Nvidia saat ini menjadi perusahaan semikonduktor paling dominan dalam gelombang perkembangan AI global. Permintaan terhadap GPU Nvidia terus meningkat karena chip tersebut menjadi komponen utama dalam pelatihan dan pengoperasian model AI generatif. Selain memperkuat posisinya di pasar pusat data, Nvidia kini juga berupaya memperluas adopsi AI ke perangkat konsumen melalui komputer pribadi yang mampu menjalankan aplikasi AI secara lokal. Dengan strategi tersebut, Nvidia berharap dapat memperluas pasar AI di luar pusat data dan komputasi awan (cloud), sekaligus mempercepat adopsi teknologi AI di kalangan pengguna individu maupun perusahaan.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Stagnan Selasa (2/6), Pelaku Pasar Cermati Negosiasi AS-Iran Taiwan Jadi Pusat Revolusi AI
Dalam kesempatan yang sama, Huang kembali menyoroti pentingnya Taiwan dalam rantai pasok industri AI global. Pekan lalu, ia mengumumkan rencana investasi senilai sekitar US$150 miliar per tahun di Taiwan. Pria kelahiran Tainan, Taiwan selatan, itu menyebut Taiwan sebagai episentrum revolusi AI dunia karena perannya yang sangat penting dalam industri semikonduktor dan manufaktur teknologi canggih. Investasi tersebut diperkirakan akan semakin memperkuat posisi Taiwan sebagai pusat produksi chip AI global di tengah meningkatnya persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China. Nvidia sendiri saat ini menjadi salah satu perusahaan dengan nilai pasar terbesar di dunia, didorong oleh lonjakan permintaan perangkat keras AI yang terus berlanjut dari berbagai sektor industri.