Jenuh dengan produk China, Indonesia bisa rebut pangsa pasar di Nigeria



JAKARTA. Kejenuhan terhadap kualitas produk asal China melanda masyarakat Nigeria. Hal tersebut memberikan peluang bagi Indonesia untuk merebut pangsa pasar produk China di negara tersebut. "Mereka (Nigeria) jenuh dengan (produk China) yang di bawah standar. Mereka mulai melihat produk Indonesia yang harganya cocok, tapi kualitasnya lebih bagus. Makanya ini peluang buat Indonesia rebut pangsa pasar China," tutur mantan Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Nigeria Heriyono Hadi Prasetyo, usai perkenalan 18 atase dagang dan ITPC, Jumat (9/9). Heriyono yang kini dipindahtugaskan menjadi ITPC Dubai Persatuan Emirate Arab itu berpendapat, Nigeria bisa menjadi pasar ekspor yang luar biasa besar bagi Indonesia. Terutama dengan 150 juta orang yang bisa dijadikan objek pemasaran produk asal Indonesia. Selain itu, porsi impor Nigeria yang mencapai 90% itu menjadi peluang bagi Indonesia untuk menyuplai berbagai produk di negara tersebut. Nigeria memang tidak terlalu populer di kalangan investor. Padahal, sumber daya alam negara itu cukup bagus. Bahkan, Indonesia secara rutin mengimpor minyak bumi sejak 2007-2010 sebesar US$ 2,12 miliar. Sayangnya, negara itu memiliki manajemen perdagangan dan perindustrian buruk yang mengakibatkan tingginya biaya overhead. Bahkan, kebutuhan listrik pun dipenuhi dengan generator karena Nigeria menjual listriknya pada negara lain. Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan industri dalam negeri yang rendah. Sehingga barang impor mendominasi Nigeria hingga 90%. Hal inilah, menurutnya, yang menjadi peluang besar bagi Indonesia. Selain kejenuhan atas kualitas produk buatan China, faktor internal Nigeria bisa menjadi jembatan bagi industri dalam negeri berekspansi di Afrika.

Sudah ada produk yang sangat terkenal

Apalagi, produk bermerek asal Indonesia seperti Indomie, Procold dan obat-obatan produksi Dexa Medica terbilang eksis di Nigeria. Sehingga pencitraan produk asal Indonesia sudah baik di mata penduduk Nigeria. "Jadi untuk merebut pangsa pasar China itu pasti bisa," ujarnya. Nantinya pun, pemasaran produk asal Indonesia menuju Nigeria itu berpotensi meluas di Afrika bagian barat seperti Benin, Tobo dan Ghana. "Jadi produk kita tidak hanya bisa di Nigeria saja, tapi meluas hingga Afrika bagian barat," tuturnya. Meski tidak menyebutkan pangsa pasar Indonesia dan China secara jelas, dia mengutarakan, negara tirai bambu itu menduduki peringkat pertama sebagai negara pengekspor berbagai macam produk ke Nigeria. Mulai dari produk berteknologi tinggi hingga makanan ringan asal China berhasil menggeser pangsa pasar Indonesia. "Dulu Indonesia cukup besar, tapi turun saat China masuk Nigeria sekitar 1999," kata Heriyono. Kini, Indonesia bisa menggeser China lewat produk mobil pemadam kebakaran, jasa perawatan pesawat berbadan besar, makanan minuman, kosmetik dan material. Produk-produk itu terbukti bisa bertahan dari agresi produk China. Khusus, produk kertas, minyak goreng, kelapa sawit, penyedap rasa, dan mie instan, Indonesia memiliki pangsa pasar yang terbilang jauh lebih besar ketimbang China. "Itu yang bisa jadi andalan," ujarnya. Sebagai informasi saja, anak perusahaan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) secara rutin memberikan jasa perawatan pesawat berbadan besar pada Nigeria. Terakhir, perusahaan itu melayani perawatan 13 pesawat dengan nilai servis masing-masing sekitar US$1 juta. Untuk pesawat berbadan lebih kecil dilayani dengan mengirimkan teknisi ke Nigeria. Lalu, PT New Sentosa menyuplai 40 mobil pemadam kebakaran. Bahkan, mie instan dan obat flu buatan Indonesia pun menjadi barang bercitra bagus di Nigeria.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: