Jepang Aktifkan Kembali PLTN Terbesar di Dunia Setelah 15 Tahun Dihentikan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jepang bersiap mengaktifkan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terbesar di dunia, Kashiwazaki-Kariwa, menandai kembalinya negara tersebut pada energi nuklir sekitar 15 tahun setelah bencana Fukushima 2011 memicu penutupan reaktor secara nasional.

Tokyo Electric Power Company (TEPCO) pada Rabu (waktu setempat) menyatakan tengah “melanjutkan persiapan” dan menargetkan pengoperasian kembali PLTN Kashiwazaki-Kariwa di Prefektur Niigata pada pukul 19.00 waktu setempat atau 10.00 GMT. Meski demikian, langkah ini masih dibayangi kekhawatiran terkait keselamatan.

Kepercayaan publik Jepang terhadap infrastruktur energi nuklir runtuh setelah tragedi Fukushima pada 2011, ketika gempa bumi besar dan tsunami memicu tiga kali pelelehan inti reaktor di pembangkit yang juga dioperasikan oleh TEPCO. Sejak saat itu, Jepang menutup seluruh 54 reaktor nuklirnya.


Pada tahap awal, hanya satu dari tujuh reaktor di Kashiwazaki-Kariwa yang akan diaktifkan kembali. Jika seluruh unit beroperasi penuh, pembangkit ini memiliki kapasitas hingga 8,2 gigawatt, cukup untuk memasok listrik bagi jutaan rumah tangga. Kompleks PLTN tersebut berdiri di atas lahan seluas sekitar 4,2 kilometer persegi di pesisir Laut Jepang.

Baca Juga: Pengadilan Jepang Vonis Penjara Seumur Hidup Pembunuh Mantan PM Shinzo Abe

Langkah Jepang kembali mengandalkan energi nuklir dipicu oleh berbagai kendala dalam pengembangan energi terbarukan, khususnya proyek ladang angin lepas pantai. Pemerintah kini memandang nuklir sebagai solusi untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.

Kashiwazaki-Kariwa menjadi pembangkit ke-15 yang diaktifkan kembali dari total 33 PLTN yang masih dinilai layak beroperasi. Selain menghidupkan kembali reaktor yang memungkinkan, Perdana Menteri Sanae Takaichi juga mendorong pembangunan reaktor baru sebagai bagian dari strategi energi jangka panjang.

Pemerintah Jepang pun baru-baru ini mengumumkan skema pendanaan negara untuk mempercepat kebangkitan industri nuklir.

Namun, penolakan dari sebagian masyarakat masih kuat. Pengaktifan kembali PLTN Kashiwazaki-Kariwa sempat tertunda sehari setelah TEPCO menyelidiki gangguan alarm, yang diklaim telah berhasil diatasi. Pembangkit ini juga telah dilengkapi berbagai peningkatan keselamatan, termasuk tanggul tsunami setinggi 15 meter.

Awal bulan ini, kelompok penentang mengajukan petisi kepada TEPCO dan Otoritas Regulasi Nuklir Jepang yang ditandatangani hampir 40.000 orang. Mereka menyoroti lokasi pembangkit yang berada di zona patahan seismik aktif serta riwayat gempa kuat yang pernah mengguncang wilayah tersebut pada 2007.

“Kami tidak bisa menghilangkan ketakutan akan kemungkinan gempa tak terduga di masa depan. Membuat banyak orang cemas dan takut demi mengalirkan listrik ke Tokyo adalah hal yang tidak dapat diterima,” demikian bunyi petisi tersebut.

Baca Juga: Pasar Saham Jepang Goyah: Ini Sektor Paling Terdampak Aksi Jual Investor

Presiden TEPCO, Tomoaki Kobayakawa, menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi proses berkelanjutan. Ia menyatakan operator energi nuklir tidak boleh bersikap arogan atau terlalu percaya diri dalam mengelola risiko.

Kebangkitan PLTN Kashiwazaki-Kariwa terjadi di tengah tekanan terhadap industri nuklir Jepang yang belakangan diterpa sejumlah skandal dan insiden, termasuk kasus pemalsuan data oleh Chubu Electric Power yang bertujuan meremehkan risiko gempa. Kondisi ini menambah tantangan bagi pemerintah dan operator dalam memulihkan kepercayaan publik terhadap energi nuklir di Jepang.

Selanjutnya: BI Akan Lakukan Intervensi Skala Besar dan Gunakan Cadev untuk Pulihkan Rupiah

Menarik Dibaca: Pantau 5 Kripto Top Gainers 24 Jam Terakhir, LayerZero Memimpin