Jepang Catat Defisit Transaksi Berjalan Pertama dalam 17 Bulan



KONTAN.CO.ID - Jepang mencatat defisit transaksi berjalan pada Juni 2026, menjadi yang pertama dalam 17 bulan.

Kondisi tersebut terjadi setelah investasi asing yang kuat di pasar domestik meningkatkan pembayaran dividen kepada investor luar negeri.

Baca Juga: Dolar AS Tertekan Dekati Level Terendah Dua Bulan Senin (10/8), Jelang Data Inflasi


Berdasarkan data Kementerian Keuangan Jepang yang dirilis Senin (10/8/2026), defisit transaksi berjalan Jepang mencapai 92,3 miliar yen atau sekitar US$ 584,51 juta pada Juni.

Angka tersebut berbanding terbalik dengan surplus 1,28 triliun yen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Capaian Juni juga jauh di bawah proyeksi ekonom yang memperkirakan Jepang masih mencatat surplus sebesar 1,51 triliun yen.

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh menyusutnya surplus pendapatan primer, yang berasal dari investasi surat berharga dan investasi langsung di luar negeri.

Komponen ini biasanya menjadi penopang utama surplus transaksi berjalan Jepang.

Baca Juga: Iran Syaratkan Kompensasi dan Pencabutan Sanksi AS untuk Buka Selat Hormuz

Pada Juni, surplus pendapatan primer menyusut 74% menjadi 380 miliar yen. Penurunan tersebut terjadi karena meningkatnya pembayaran dividen dari perusahaan-perusahaan Jepang kepada investor asing.

Selain itu, kenaikan biaya impor minyak turut mendorong Jepang mencatat defisit perdagangan pada Juni. Kondisi tersebut kemudian ikut menyeret transaksi berjalan Jepang ke zona defisit.

Meski demikian, kinerja transaksi berjalan Jepang sepanjang paruh pertama 2026 masih menunjukkan penguatan.

Pada periode Januari-Juni 2026, surplus transaksi berjalan Jepang meningkat 22,5% menjadi rekor 17,4 triliun yen.

Baca Juga: Transfer Rodri: Barcelona Ajukan Rp1,23 T, Man City Minta Lebih

Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh surplus perdagangan yang didorong kuatnya ekspor semikonduktor untuk pusat data kecerdasan buatan (AI).

Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun Jepang menghadapi tekanan dari meningkatnya pembayaran kepada investor asing dan biaya impor energi, kinerja ekspor, terutama produk yang berkaitan dengan industri AI, masih menjadi penopang utama posisi eksternal ekonomi Jepang.