KONTAN.CO.ID - Pemerintah Jepang mencatat intervensi pembelian yen terbesar dalam satu hari sepanjang sejarah pada April 2026. Langkah ini dilakukan dengan menjual sekitar US$ 40 miliar di pasar valuta asing guna menahan pelemahan yen terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Serangan Houthi Lukai 11 Warga Sipil di Arab Saudi, Riyadh Waspadai Eskalasi Ancaman Mengutip
Reuters, Jumat (7/8/2026), data triwulanan Kementerian Keuangan Jepang (Ministry of Finance/MOF) menunjukkan, otoritas Jepang melakukan intervensi selama tiga hari, yakni pada 30 April hingga 6 Mei 2026, ketika likuiditas pasar menipis akibat libur Golden Week. Intervensi terbesar dilakukan pada 30 April, dengan nilai mencapai 6,28 triliun yen atau sekitar US$ 39,64 miliar. Nilai tersebut melampaui rekor sebelumnya sebesar 5,92 triliun yen yang dilakukan pada 29 April 2024, berdasarkan data MOF sejak 1991. Data terbaru itu juga merinci intervensi senilai total 11,7 triliun yen yang sebelumnya telah diumumkan untuk periode 28 April hingga 27 Mei 2026. Langkah tersebut sempat mendorong penguatan yen dari posisi hampir menyentuh level terlemah dalam dua tahun, yakni 160,725 per dolar AS, menjadi sekitar 155 per dolar AS pada 6 Mei.
Baca Juga: Arsenal Perpanjang Kerja Sama dengan Emirates hingga 2033, Ini Detail Kemitraannya Namun, intervensi tersebut belum mampu membalikkan tren pelemahan yen secara keseluruhan. Setelah itu, mata uang Jepang kembali tertekan hingga menyentuh level terendah dalam sekitar 40 tahun, yakni melemah di bawah 163 yen per dolar AS pada Juli 2026. Pelemahan tersebut mendorong pemerintah Jepang kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing pada pekan lalu. Kali ini, intervensi dilakukan secara terkoordinasi dengan pemerintah Amerika Serikat untuk menstabilkan pergerakan yen.