Jepang dan Indonesia akan rundingkan kontribusi Inalum



JAKARTA. Perundingan antara Indonesia dan Jepang untuk membahas kelanjutan kerjasama proyek PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) akan digelar Oktober 2010 mendatang. Salah satu poin yang akan dibahas dalam perundingan itu adalah mengenai kontribusi produk alumunium Inalum untuk kebutuhan domestik. "Kebutuhan alumunium kita yang diproduksi oleh Inalum hanya 22% dari kebutuhan nasional, dan ini harus ditingkatkan," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Kamis (23/9) kemarin. Untuk meningkatkan kontribusi Inalum ini, Hidayat bilang nantinya perlu dibangun industri turunan (downstream) atau hilirisasi industri. "Kita akan meminta Inalum untuk memperbaiki smelter yang ada disana," ungkap Hidayat. Hilirisasi industri ini, kata Hidayat akan dimanfaatkan untuk memberdayakan masyarakat di sekitar lokasi pabrik Inalum.Proyek Inalum adalah proyek kerjasama antara pemerintah Indonesia dan investor asal Jepang yang tergabung dalam Nippon Asahan Alumunium Co.Ltd (NAA). Kerjasama ini dimulai sejak tahun 1975 dan akan berakhir pada 2013 nanti. Saat ini, pemerintah Indonesia menguasai saham Inalum sebesar 41,12%, sedangkan sisanya sebesar 58,88% dikuasai oleh NAA.Tahun ini, Inalum diharapkan mampu membukukan laba sebesar US$ 9 juta. Pada tahun 2011, diharapkan laba Inalum akan meningkat hingga US$ 103 juta dan naik lagi pada 2012 menjadi US$ 223 juta. Dan pada 2013, laba Inalum akan mencapai US$ 308 juta.

Jika sesuai rencana, perundingan terkait kepemilikan Inalum akan mulai dilakukan sebelum akhir Oktober nanti. Salah satu opsi yang diharapkan bisa dicapai melalui perundingan tersebut adalah pemerintah menjadi pemilik saham mayoritas di Inalum, dengan tetap memberikan porsi kepemilikan bagi Jepang atau pemerintah menguasai sepenuhnya kepemilikan saham atas Inalum.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: