Jerman Siapkan Paket Pertahanan Hadapi Serangan Drone dan Sabotase Rusia



KONTAN.CO.ID - BERLIN. Pemerintah Jerman tengah menyiapkan paket kebijakan komprehensif untuk memperkuat pertahanan negara dari ancaman serangan drone, penyusupan siber, hingga berbagai bentuk sabotase yang dikaitkan dengan Rusia.

Rencana tersebut disusun setelah insiden serangan drone terhadap sebuah bandara di Jerman pada bulan lalu gagal dilakukan. Laporan mengenai rencana penguatan pertahanan ini disampaikan surat kabar Bild am Sonntag pada Minggu (6/9/2026).

Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt mengatakan, ancaman serangan hibrida dari Rusia kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.


"Serangan-serangan ini akan meningkat, tetapi kami dapat mempertahankan diri dan melindungi diri kami," ujar Dobrindt, seperti dikutip Bild am Sonntag.

Menurut laporan tersebut, pemerintah Jerman berencana memperluas kemampuan pertahanan drone yang dimiliki kepolisian. Unit penangkal drone yang dapat dikerahkan dengan cepat akan ditempatkan di sejumlah kota.

Baca Juga: Rusia Buka Wacana Pertemuan Tiga Pemimpin Dunia

Unit tersebut akan bertugas melindungi wilayah udara di atas pusat transportasi penting serta kawasan pemerintahan dari potensi serangan drone.

Perusahaan Infrastruktur Kritis Bisa Menangkal Drone

Selain memperkuat kemampuan kepolisian, pemerintah Jerman juga berencana memberikan kewenangan hukum yang lebih luas kepada perusahaan yang mengoperasikan infrastruktur kritis.

Perusahaan seperti operator utilitas listrik dan produsen peralatan pertahanan nantinya tidak hanya diperbolehkan mendeteksi keberadaan drone, tetapi juga mengambil tindakan aktif untuk menangkal atau menjatuhkan ancaman tersebut.

Langkah ini menunjukkan upaya Berlin untuk memperluas sistem pertahanan terhadap drone dari sektor pemerintah ke sektor infrastruktur strategis yang berpotensi menjadi sasaran sabotase.

Jerman Siapkan "Cyberdome" Hadapi Serangan Siber

Dalam menghadapi ancaman digital, pemerintah Jerman juga disebut akan membangun sistem perlindungan nasional yang disebut sebagai "cyberdome".

Sistem tersebut akan terdiri dari jaringan sensor digital yang dirancang untuk mendeteksi dan mencegat upaya serangan peretasan terhadap sistem komputer maupun jaringan strategis.

Penguatan pertahanan siber menjadi bagian penting dari strategi Jerman menghadapi apa yang disebut sebagai ancaman hibrida, yang mencakup serangan digital, sabotase infrastruktur, serta aktivitas yang dapat mengganggu fasilitas penting negara.

AI dan Pengenalan Wajah Akan Diperluas

Pemerintah Jerman juga berencana meningkatkan penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam sistem keamanan.

Teknologi pengenalan wajah berbasis biometrik dan pengawasan melalui kamera video, misalnya di stasiun kereta api, akan diperluas untuk membantu mengidentifikasi orang yang diduga tengah mempersiapkan aksi sabotase.

Baca Juga: Kapal Induk AS Abraham Lincoln Tinggalkan Thailand Usai Lima Hari Bersandar

Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan memungkinkan aparat mendeteksi potensi ancaman lebih dini, khususnya di lokasi yang menjadi pusat mobilitas masyarakat dan memiliki nilai strategis.

Rusia Bantah Terlibat

Rusia selama ini membantah tuduhan bahwa negara tersebut menjalankan operasi sabotase di Eropa Barat. Moskow juga menyangkal keterlibatannya dalam serangan drone terhadap bandara di Jerman.

Kementerian Luar Negeri Rusia sebelumnya menyatakan akan merespons tindakan yang disebut juru bicaranya sebagai "aksi anti-Rusia".

Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Jerman belum memberikan tanggapan segera atas permintaan komentar yang dikirim melalui surat elektronik terkait laporan tersebut.

Rencana Berlin tersebut mencerminkan meningkatnya perhatian Jerman terhadap ancaman keamanan yang tidak hanya berbentuk serangan militer konvensional, tetapi juga mencakup drone, serangan siber, sabotase infrastruktur, dan penggunaan teknologi untuk mengganggu keamanan nasional.