Jerman Umumkan Kebijakan Hemat Energi Besar-besaran Menjelang Musim Dingin



KONTAN.CO.ID - BERLIN. Pada Rabu (24/8/2022), Kabinet Jerman menyetujui langkah-langkah penghematan energi besar-besaran. Kebijakan tersebut diambil sebagai bagian dari upaya untuk melindungi cadangan gas negara itu demi mengimbangi pengiriman yang terhambat dari Rusia.

Dipastikan, saat kebijakan hemat energi itu diberlakukan, gedung-gedung publik Jerman akan menjadi lebih sejuk dan jalanan menjadi lebih gelap.

Melansir Reuters, raksasa gas Rusia Gazprom telah memangkas aliran gas ke Jerman melalui pipa Nord Stream 1 hingga 20% dari kapasitas, dengan alasan masalah teknis. Berlin sendiri menyebut langkah itu bermotif politik, mengingat sanksi Eropa terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina.


Dengan aturan yang masuk, pemerintah Jerman berharap dapat mengurangi penggunaan gas sekitar 2%.

"Secara keseluruhan langkah-langkah tersebut menghemat energi. Namun, tidak sejauh kita dapat duduk dan berkata, 'Itu akan dilakukan sekarang,'" Menteri Ekonomi Robert Habeck mengatakan kepada wartawan setelah rapat kabinet di Berlin.

Baca Juga: Gazprom Bantah Ottawa; Tak Ada Turbin Pipa Gas Nord Stream 1 yang Diservis di Kanada

Langkah-langkah tersebut dapat menyelamatkan rumah tangga swasta, perusahaan dan sektor publik sekitar 10,8 miliar euro (US$ 10,7 miliar) secara total selama dua tahun ke depan, kata kementerian Habeck.

Mulai 1 September 2022, bangunan umum - dengan pengecualian lembaga sosial seperti rumah sakit - akan dipanaskan hingga maksimum 19 derajat Celcius, dan pemanas dapat dimatikan seluruhnya di koridor dan serambi.

Sementara itu, bangunan dan monumen tidak akan lagi diterangi untuk tujuan estetika murni dan para pelaku bisnis dilarang membuat etalase toko mereka diterangi lampu-lampu pada malam hari.

Larangan juga direncanakan pada pemanasan kolam renang pribadi.

Baca Juga: Pasokan Rusia Terhambat, Harga Gas Alam Menuju ke US$ 10 mmbtu

Kabinet juga pada hari Rabu menyetujui undang-undang untuk memprioritaskan transportasi energi di bagian dari jaringan kereta api negara itu. 

Hal ini menyusul terjadinya tingkat air yang sangat rendah di sungai Rhine selama berminggu-minggu, yang telah mengganggu pengiriman logistik.  

Tentu saja, hal ini juga menambah masalah baru bagi pimpinan energi Jerman karena industri mau tidak mau harus beralih untuk menggunakan lebih banyak batu bara dan minyak karena kelangkaan impor energi Rusia. 

Di samping langkah-langkah penghematan energi baru, Jerman juga bekerja untuk mendirikan dua terminal gas alam cair di pantai Laut Utara untuk membantu meningkatkan penyimpanan gas menyambut bulan-bulan musim dingin.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie