Jerome Powell Beri Pesan untuk Suksesornya di The Fed: Jangan Terseret Politik Trump



KONTAN.CO.ID – WASHINGTON. Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menegaskan pentingnya menjaga independensi bank sentral dari politik elektoral, di tengah sorotan tajam terhadap masa depannya dan penyelidikan pidana yang diluncurkan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Dalam konferensi pers rutin usai rapat kebijakan moneter terbaru pada Rabu (waktu setempat), Powell lebih banyak menghindari pertanyaan terkait masa jabatannya di bank sentral serta penyelidikan Departemen Kehakiman (DOJ).

Namun, ia menyampaikan pesan lugas kepada siapa pun yang kelak menggantikannya.


“Jauhi politik elektoral, jangan terseret ke dalamnya. Jangan lakukan itu,” tegas Powell.

Baca Juga: Pernyataan Hasil FOMC The Fed (28 Januari 2026)

Konferensi pers kali ini berbeda dari biasanya. Alih-alih fokus pada prospek ekonomi dan arah suku bunga, Powell dibombardir pertanyaan mengenai penyelidikan DOJ yang sebelumnya ia ungkap melalui pernyataan video luar biasa pada 11 Januari lalu.

Meski menekankan pentingnya menjauh dari politik, Powell menegaskan bahwa hal tersebut bukan berarti menghindari pejabat terpilih. Menurutnya, hubungan dengan Kongres justru menjadi jalur utama akuntabilitas demokratis The Fed.

“Jendela kami terhadap akuntabilitas demokratis adalah Kongres. Ini bukan beban pasif bagi kami untuk datang ke Kongres dan berbicara dengan para anggota, melainkan kewajiban rutin yang aktif,” ujar Powell, yang selama delapan tahun kepemimpinannya dikenal membangun hubungan luas dengan anggota parlemen di Capitol Hill.

Ia menambahkan, legitimasi demokratis bank sentral diperoleh melalui interaksi yang sehat dengan para pengawas terpilih tersebut.

Namun demikian, Powell menolak menjawab berulang kali permintaan wartawan untuk menjelaskan lebih jauh pernyataan videonya maupun mengungkap rencananya setelah masa jabatannya sebagai Ketua The Fed berakhir pada Mei mendatang. Masa jabatannya sebagai anggota Dewan Gubernur sendiri masih tersisa dua tahun.

“Saya benar-benar tidak memiliki apa pun untuk disampaikan hari ini,” katanya, frasa yang diulang beberapa kali sepanjang konferensi pers berdurasi lebih dari 45 menit.

Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Powell: Inflasi Masih Tinggi tapi Terkendali

Penyelidikan DOJ tersebut terkait dugaan pembengkakan biaya renovasi kantor pusat The Fed. Powell menilai ada “waktu dan tempat” untuk membahas isu tersebut, dan menegaskan fokus konferensi pers adalah pada kondisi ekonomi serta keputusan kebijakan hari itu.

Dalam rapat tersebut, para pejabat The Fed sepakat mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75%, sesuai ekspektasi pasar. Powell tidak memberikan petunjuk jelas mengenai arah kebijakan berikutnya, meski pasar mulai berspekulasi mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga pada Juni.

Isu Suksesi dan Tekanan Politik Trump

Di sisi lain, Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan kandidat pengganti Powell.

Meski Trump yang pertama kali menunjuk Powell pada awal masa jabatan pertamanya, ia belakangan kerap mengkritik Powell dan The Fed secara terbuka, terutama karena dinilai tidak cukup agresif memangkas suku bunga di tengah inflasi yang masih jauh di atas target 2%.

Trump bahkan menjadikan komitmen pemangkasan suku bunga sebagai syarat utama dalam pemilihan Ketua The Fed berikutnya. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar bahwa independensi bank sentral bisa tergerus oleh tekanan politik Gedung Putih.

Pasar taruhan menempatkan Chief Bond Investment Manager BlackRock, Rick Rieder, sebagai kandidat terkuat. Nama lain yang disebut-sebut antara lain penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett, Gubernur The Fed Christopher Waller, dan mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh.

Baca Juga: Bursa Global Cetak Rekor, Dolar Mulai Stabil Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Dalam upaya memperluas pengaruhnya di The Fed, Trump bahkan sempat mencoba memecat Gubernur Lisa Cook dengan alasan dugaan kesalahan pernyataan pada dokumen pengajuan kredit perumahan sebelum penunjukannya di The Fed.

Pekan lalu, Powell menghadiri sidang Mahkamah Agung terkait kasus tersebut, meskipun Menteri Keuangan Scott Bessent menyebut langkah itu tidak tepat.

Powell membela keputusannya hadir di sidang tersebut.

“Saya akan mengatakan bahwa kasus itu mungkin merupakan perkara hukum paling penting dalam sejarah 113 tahun The Fed,” ujar Powell. “Dan ketika saya memikirkannya, saya merasa akan sulit menjelaskan jika saya tidak hadir.”

Selanjutnya: Dolar Dekati Level Terendah Multi-Tahun Kamis (29/1), Investor Cermati Risiko

Menarik Dibaca: Hasil Thailand Masters 2026, 3 Ganda Putri Indonesia Tembus Babak 8 Besar