Jika data inflasi AS sesuai ekspektasi, rupiah berpotensi menguat pada Jumat (11/6)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nasib pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat (11/6) akan ditentukan oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS).

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menjelaskan, secara teknis rupiah berpotensi menguat pada perdagangan Jumat (11/6). Hanya saja, hal tersebut juga bergantung pada sentimen pasar terhadap laporan inflasi bulanan AS yang akan dirilis nanti malam.

“Pasar saat ini mengekspektasikan angka yang dirilis pada Mei akan mengalami kenaikan dibanding posisi April. Ketika inflasi ternyata lebih tinggi, tentu ini akan melemahkan dolar AS yang pada akhirnya menguatkan nilai tukar rupiah,” kata Sutopo kepada Kontan.co.id, Kamis (10/6).


Menurut Sutopo, ketika inflasi diartikan sebagai kenaikan harga komoditi, kemudian harga komoditi digunakan sebagai acuan untuk memprediksi pergerakan kurs, maka mata uang dari negara yang memiliki tingkat inflasi lebih tinggi cenderung mengalami depresiasi.

Baca Juga: Rupiah Jisdor menguat 0,15% ke Rp 14.240 per dolar AS pada perdagangan Kamis (10/6)

Sutopo menyebut, secara teknis, rupiah berpotensi untuk mengalami penguatan pada perdagangan Jumat. Proyeksinya, rupiah akan berada pada kisaran Rp 14.200 - Rp 14.325 per dolar Amerika Serikat (AS)

Pada perdagangan Kamis (10/6), rupiah di pasar spot ditutup menguat tipis 0,05% ke level Rp 14.248 per dolar Amerika Serikat (AS). 

Sementara di Jisdor Bank Indonesia (BI), mata uang Garuda ini terapresiasi 0,15% ke level Rp 14.240 per dolar AS. 

Selanjutnya: Rupiah spot menguat 0,05% ke Rp 14.248 per dolar AS pada perdagangan Kamis (10/6)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi