Jika tekanan rupiah makin parah, BI bisa naikkan bunga



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan pada Selasa (14/8) dan Rabu (15/8) mendatang untuk menetapkan kebijakan satu bulan ke depan besok.

Pelemahan lira Turki dinilai perlu menjadi sorotan. Sebab depresiasi lira telah menyebabkan nilai tukar rupiah pada hari ini melemah hingga menembus Rp 14.600 per dollar Amerika Serikat (AS).

Project Consultant Asian Development Bank Institute Eric Sugandi mengatakan, investor global khawatir krisis di Turki bisa menyeret Eropa karena utang Turki, terutama untuk membangun proyek-proyek infrastruktur banyak dari bank-bank Uni Eropa.


Akibatnya, banyak investor global yang menarik uangnya dari emerging markets dan beralih ke aset yang lebih aman, terutama US Treasury. Itulah yang membuat permintaan terhadap dollar AS meningkat. Rupiah pun terdampak hal itu.

"Makanya dampaknya terutama lewat jalur finansial daripada jalur perdagangan, karena Turki bukan mitra dagang utama Indonesia," kata Eric, Senin (13/8).

Tertekannya rupiah lanjut Eric, juga dipengaruhi oleh faktor eksternal lainnya, yaitu: ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed di September hingga eskalasi perang dagang antara AS dengan China, Eropa, Kanada, dan Meksiko.

Dari sisi internal, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh defisit transaksi berjalan (current account deficit atau CAD) yang melebar hingga menyentuh 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) di kuartal kedua tahun ini.

Eric tak bisa memperkirakan, sampai kapan lira bisa menekan rupiah. Meski begitu, "Jika tekanan terhadap rupiah makin parah dalam beberapa hari mendatang, maka ada kemungkinan BI menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) lagi," terangnya.

Setidaknya BI bisa menaikkan bunga acuan antara 25-50 basis points (bps) dari level 5,25% saat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto