KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) berpeluang melanjutkan penguatan setelah pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan Bank Indonesia (BI) sama-sama mempertahankan suku bunga acuannya dalam rapat pekan ini. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin,
menyebut ekspektasi meredanya tekanan inflasi global akibat turunnya harga minyak telah mengurangi peluang kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut menjadi sentimen positif bagi pasar obligasi, termasuk SBN. Asal tahu saja, harga minyak WTI (West Texas Intermediate) dan Brent sama-sama mengalami penurunan masing-masing 16,26% dan 15,71% dalam sepekan terakhir. Saat ini minyak WTI dihargai US$ 75,6 per barel dan minyak Brent dihargai Rp 78,6 per barel.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.762 Per Dolar AS Hari Ini (17/6), Asia Terkoreksi "Kesepakatan AS-Iran merupakan sebuah kejutan, diluar perkiraan banyak pihak. Penurunan harga minyak tentunya akan menurunkan inflasi di AS, sehingga peluang the Fed menaikkan Fed rate semakin mengecil," terang Wijayanto kepada Kontan, Rabu (17/6/2026). Fed Funds Rate saat ini berada di kisaran 3,50% hingga 3,75%.
Menurut dia, dalam skenario The Fed menahan suku bunga di level tersebut dan BI juga mempertahankan BI-Rate di level 5,50%, harga SBN di pasar sekunder berpotensi meningkat. Alhasil, yield SBN, termasuk tenor 10 tahun, berpeluang melanjutkan penurunan. Pergerakan tersebut sejalan dengan tren beberapa waktu terakhir. Yield SBN tenor 10 tahun yang sudah berada di level tinggi, tercatat turun ke kisaran 6,89% pada Rabu (17/6) dari sekitar 7,5% pada pekan sebelumnya. Wijayanto menjelaskan, penurunan yield tersebut didorong oleh mengecilnya peluang kenaikan suku bunga The Fed seiring perkembangan terbaru konflik Iran-AS yang berdampak pada koreksi harga energi global. Kondisi itu meningkatkan minat investor terhadap SBN sehingga harga obligasi naik dan yield menurun. Ia menambahkan, perubahan harga dan yield SBN di pasar sekunder merupakan mekanisme pasar yang mencerminkan daya tarik instrumen tersebut dibandingkan alternatif investasi lain, seperti misalnya obligasi pemerintah AS (US Treasury). "Jika SBN kurang menarik maka investor akan melepas SBN di pasar sekunder, harga turun dan yield naik. Sebaliknya, saat SBN semakin menarik, harga naik dan yield turun," jelasnya. Meski demikian, risiko tetap membayangi apabila hasil rapat bank sentral pekan ini tidak sesuai ekspektasi pasar. Menurut Wijayanto, skenario paling negatif bagi pasar SBN domestik adalah jika The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya. Dalam kondisi tersebut, nilai tukar rupiah berpotensi melemah dan harga SBN tertekan. BI juga kemungkinan terdorong untuk merespons dengan menaikkan BI-Rate guna menjaga stabilitas rupiah. “BI-Rate yang tinggi akan bagus bagi stabilitas nilai tukar rupiah, tetapi akan semakin memberatkan sektor riil akibat biaya kredit yang meningkat,” jelasnya. Untuk paruh kedua 2026, Wijayanto memperkirakan pasar obligasi masih menghadapi tantangan. Ia memandang yield SBN tenor 10 tahun berpotensi kembali meningkat mendekati akhir tahun seiring risiko rupiah yang berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS. Menurutnya, penguatan rupiah saat ini sifatnya masih artifisial, masih banyak ditopang oleh faktor jangka pendek, seperti tingginya BI-Rate, intervensi BI yang masif di pasar valas, serta kebijakan swap facility dengan fee diskon.
Jika langkah tersebut tidak segera diikuti dengan perbaikan fundamental baik dari fiskal, perbaikan iklim usaha, dan kebiasaan pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak konsisten, maka tekanan terhadap rupiah dan pasar obligasi berpotensi kembali muncul. “Melihat sikap pemerintah yang masih terkesan denial, kita sulit mengharapkan response pemerintah yang serius memadai,” pungkas Wijayanto
Baca Juga: Barito Pacific (BRPT) Tak Lagi Bergantung pada Petrokimia, Simak Prospek Sahamnya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News