KONTAN.CO.ID - Serangan pada acara gala resmi bertema black-tie di Washington pada Sabtu (23/4/2026) yang dihadiri Presiden Donald Trump tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, insiden tersebut memunculkan pertanyaan: siapa yang akan “mengambil alih” jika Trump atau pejabat tinggi pemerintahannya terluka atau tidak mampu menjalankan tugas? Hukum Amerika Serikat telah menetapkan garis suksesi yang jelas, mencakup pejabat tinggi Kongres dan para menteri kabinet. Peristiwa seperti serangan 11 September 2001 pernah memunculkan kekhawatiran bahwa semua pejabat dalam garis suksesi bisa saja tewas jika mereka berkumpul di satu tempat.
Sebagai langkah pencegahan, presiden biasanya memastikan setidaknya ada satu pejabat yang bertugas sebagai “designated survivor” (penyintas yang ditunjuk), yaitu pejabat yang tidak menghadiri acara besar dan penting, seperti pidato tahunan State of the Union di Kongres. Melansir
Reuters, menurut Konstitusi AS, semua orang yang masuk dalam garis suksesi harus berusia minimal 35 tahun, merupakan warga negara kelahiran AS (natural-born citizen), serta telah tinggal di AS setidaknya 14 tahun. Selain itu, mereka juga harus sudah dikonfirmasi oleh Senat.
Garis Suksesi
Wakil Presiden JD Vance akan mengambil alih tugas presiden jika Trump tewas atau tidak mampu menjalankan tugasnya. Vance akan melanjutkan sisa masa jabatan Trump hingga Januari 2029, sesuai Amandemen ke-25 Konstitusi AS. Ia juga berhak menunjuk wakil presiden baru untuk mengisi posisi tersebut. Jika Trump dan Vance sama-sama tidak mampu menjalankan tugas, maka Ketua DPR (Speaker of the House) Mike Johnson akan menggantikan.
Baca Juga: Ketegangan Teluk Berisiko Menjalar ke Selat Malaka, Ini Peringatan Pakar Malaysia Jika Johnson juga tidak mampu, maka posisi berikutnya adalah presiden pro tempore Senat, jabatan seremonial yang biasanya dipegang oleh senator paling lama dari partai mayoritas. Saat ini posisi itu dipegang oleh Senator Republik Chuck Grassley dari Iowa, yang berusia 92 tahun. Setelah itu, daftar dilanjutkan oleh para anggota kabinet Trump, berdasarkan lamanya kementerian mereka menjadi bagian dari pemerintah AS. Menteri Luar Negeri Marco Rubio berada di urutan pertama, disusul Menteri Keuangan Scott Bessent, lalu Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Jaksa Agung seharusnya berada di urutan berikutnya, namun belum jelas apakah Todd Blanche memenuhi syarat, karena ia memang dikonfirmasi Senat sebagai pejabat nomor dua di Departemen Kehakiman, tetapi belum dinominasikan atau dikonfirmasi sebagai pimpinan utama departemen tersebut. Setelah itu urutannya adalah: Menteri Dalam Negeri, Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, Menteri Tenaga Kerja (saat ini kosong), Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan, Menteri Perumahan dan Pembangunan Perkotaan, Menteri Transportasi, Menteri Energi, Menteri Pendidikan, Menteri Urusan Veteran, dan terakhir Menteri Keamanan Dalam Negeri.
Designated Survivor
Untuk memastikan setidaknya ada satu orang dalam garis suksesi yang selamat jika terjadi bencana besar, presiden biasanya menunjuk seorang pejabat kabinet untuk tidak menghadiri acara besar seperti pelantikan presiden atau pidato di Kongres yang dihadiri pejabat tertinggi Washington. “Designated survivor” ini tidak diwajibkan oleh hukum, namun telah menjadi praktik umum sejak 1980-an. Menurut American Presidency Project dari University of California, Santa Barbara, posisi Menteri Pertanian paling sering dipilih untuk peran tersebut. Sementara itu, Trump memilih Menteri Urusan Veteran Doug Collins sebagai designated survivor pada tahun 2025 dan 2026.
Tonton: Detik-Detik Tembakan Di Gedung Putih! Trump Dievakuasi, Pelaku Ternyata Guru Jamuan makan malam White House Correspondents' Association biasanya tidak memerlukan prosedur semacam ini, meski merupakan salah satu acara sosial penting di Washington. Trump sebelumnya menghindari acara itu selama masa jabatan pertamanya (2017-2021) dan juga memboikotnya tahun lalu. Namun, tahun ini Trump menghadiri acara tersebut bersama Vance, Johnson, Rubio, Hegseth, serta banyak pejabat kabinet lainnya. Hal ini meningkatkan risiko kekacauan konstitusional jika pelaku penembakan berhasil dalam tujuannya membunuh para pejabat utama pemerintahan. Namun, Grassley tidak menghadiri acara makan malam itu, sehingga memastikan setidaknya ada satu orang dalam garis suksesi yang tidak berada di ruangan tersebut.