JK: Pemerintah selalu lambat ambil keputusan



JAKARTA. Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, lagi-lagi mengkritik lambannya pemerintah mengambil keputusan terkait beragam kebijakan yang ada. Pemerintah seharusnya bisa lebih tegas terhadap kebijakan yang dikeluarkannya.

"Memang yang susah itu pengambil keputusannya. Dulu saya memutuskan soal kenaikan harga BBM itu cuma seminggu saja bisa selesai. Ini hampir dua tahun baru selesai," kata Kalla saat memberikan sambutan di acara Seminar Formulasi Kebijakan Ekonomi Politik Menjelang Pemilu 2014 di Hotel Sahid Jakarta, Selasa (2/7/2013).

Kalla mengkritik, kebijakan pemerintah soal energi ini masih lemah. Sebab, pada zamannya menjabat dulu, pihaknya menciptakan energi listrik yang besar dan murah.


Setiap tiga tahun sekali, pihaknya menciptakan program 10.000 MW. Program tersebut seharusnya selesai pada tahun 2010 lalu.

"Tapi sudah hampir enam tahun ini, pembangunan program tersebut belum selesai. Soalnya sekarang sudah tidak ada yang marah-marah lagi," katanya.

Kalla juga mengkritik kebijakan subsidi anggaran untuk BBM yang begitu besar. Padahal anggaran tersebut bisa dialokasikan ke program infrastruktur, energi, atau program lain yang lebih bermanfaat.

"Kita ini tidak ada yang mau berusaha untuk susah. Kita juga kurang mencari solusi untuk memperbaiki kondisi infrastruktur yang ada. Makanya kita kalah dengan negara-negara lain seperti China," tambahnya.

Padahal, dengan alokasi anggaran untuk infrastruktur yang besar, roda perekonomian pun bisa berjalan. Bukan tidak mungkin lagi, kata Kalla, pertumbuhan ekonomi sebesar 8% bisa tercapai.

"Sumber daya alam kita itu melimpah. Ada matahari, air begitu banyak. Coba lihat dari udara, mana ada yang sebegitu hijau selain Indonesia. Kalau lihat Malaysia atau Singapura, itu batu semua," katanya.

Ke depan, Kalla mengimbau agar pemerintah mau mengelola sumber daya alam, tetapi dengan mengolahnya terlebih dahulu. "Pertanian, perkebunan, itu akan menggerakkan ekonomi, tapi harus diolah terlebih dahulu," imbaunya. (Didik Purwanto/Kompas.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: