KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Biaya penataan ulang kantor (
office fit-out) di berbagai negara Asia Pasifik terus mengalami peningkatan. Menurut JLL, kenaikan tersebut didorong oleh keterbatasan tenaga kerja, tekanan harga material, serta meningkatnya kompleksitas sistem mekanikal, elektrikal, dan teknologi bangunan. Temuan tersebut dipaparkan dalam “Asia Pacific Office Fit-Out Costs Guide 2026”, yang menyajikan informasi mengenai tren pasar dan faktor-faktor yang memengaruhi biaya penataan ulang kantor di 27 kota pada 14 negara di kawasan Asia Pasifik. Panduan ini mengidentifikasi peluang sekaligus tantangan penting dalam perencanaan belanja modal (
capital expenditure/capex) dan strategi
office fit-out di tengah lingkungan bisnis yang semakin kompleks pada 2026. Ketidakpastian geopolitik menjadi faktor signifikan yang memengaruhi risiko biaya proyek. Konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah berdampak memicu volatilitas pasar energi global. Fenomena ini begitu terasa di kawasan Asia Pasifik yang sangat bergantung pada impor energi, petrokimia, serta material dengan kebutuhan energi tinggi.
Baca Juga: Pasar Perkantoran Jakarta Terus Pulih, Okupansi CBD Capai 72,8% Martin Hinge, Executive Managing Director, Project & Development Services (PDS) JLL Asia Pacific, mengatakan bahwa biaya penataan ulang kantor di Asia Pasifik masih menunjukkan perbedaan yang cukup besar dibandingkan kawasan lain di dunia. “Biaya penataan ulang kantor di Asia Pasifik menunjukkan variasi yang lebih beragam dibandingkan kawasan lain. Jepang, Singapura, Australia, dan Selandia Baru memiliki biaya renovasi yang lebih tinggi dari kota di negara lainnya. Ini menunjukkan terbatasnya ketersediaan tenaga kerja serta standar kualitas bangunan yang tinggi. Sementara itu, India, Tiongkok, dan beberapa negara di Asia Tenggara masih menawarkan biaya yang relatif lebih kompetitif. Dalam banyak kasus, biaya tersebut dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar dibandingkan penurunan biaya produksi. Kami juga melihat bahwa terbatasnya jumlah proyek yang berjalan serta meningkatnya persaingan di sejumlah pasar membuat harga semakin kompetitif. Karena itu, analisis pada tingkat kota menjadi jauh lebih relevan dibandingkan sekadar melihat rata-rata kawasan," ujar Martin, Kamis (20/8/2026). Secara regional, rata-rata biaya penataan ulang kantor di Asia Pasifik mencapai US$1.550 per meter persegi, dengan kenaikan sebesar 2–5% secara tahunan. Dibandingkan kota-kota utama di Asia Tenggara, Jakarta memiliki biaya penataan ulang kantor yang lebih rendah dibandingkan Singapura, Kuala Lumpur, Manila, dan Bangkok. Perbandingan tersebut membantu perusahaan memahami perbedaan biaya antar kota sehingga dapat menyusun perencanaan investasi dan standar desain kantor secara lebih tepat. "Jakarta masih menjadi salah satu pasar perkantoran strategis di Asia Tenggara. Perbandingan biaya penataan ulang kantor Jakarta dengan kota-kota utama lainnya di kawasan memberikan referensi bagi perusahaan dalam menentukan prioritas, strategi pengadaan, serta perencanaan ruang kerja yang selaras dengan kondisi pasar," ujar Rosari Chia, Head of Office Leasing Advisory, JLL Indonesia. Laporan ini juga menunjukkan komposisi biaya
office fit-out di setiap negara di Asia Pasifik. Di Indonesia, layanan mekanikal dan elektrikal (M&E) menyumbang porsi biaya terbesar, disusul oleh pekerjaan konstruksi, sedangkan jasa profesional menjadi komponen dengan porsi biaya terendah. Sejalan dengan temuan tersebut, Daniel Malacchini, Head of Cost Advisory & Cost Management, Project & Development Services (PDS), Asia Pacific, JLL, mengatakan bahwa analisis berbasis kota kini menjadi faktor yang semakin penting dalam mendukung pengambilan keputusan investasi dan pemilihan lokasi di Asia Pasifik. "Kami melihat, hal ini mendorong diskusi dengan banyak perusahaan yang mempertimbangkan dampak geopolitik dan akses terhadap rantai pasok saat mengevaluasi risiko biaya proyek serta upaya mitigasi yang diperlukan," ujarnya. Kenaikan Biaya di Tengah Meningkatnya Ketidakpastian Biaya penataan ulang kantor masih menghadapi kenaikan akibat keterbatasan tenaga kerja, penyesuaian harga berbasis risiko, serta peningkatan margin kontraktor. Volatilitas pasar energi juga semakin memengaruhi penetapan harga kontraktor dan strategi pengadaan di seluruh kawasan. Sebanyak 68% pemimpin fungsi biaya di Asia Pasifik menyebut tekanan harga baja dan tembaga sebagai perhatian utama. Volatilitas Nilai Tukar Memengaruhi Strategi Pengadaan
Pergerakan nilai tukar menciptakan distorsi biaya yang signifikan sehingga mendorong kontraktor untuk menyesuaikan premi risiko. Studi ini menegaskan bahwa perusahaan multinasional memerlukan analisis dua mata uang (dual-currency analysis) serta strategi pengadaan yang mempertimbangkan kondisi pasar lokal guna menghindari kesalahan dalam penyusunan anggaran.
Kinerja dan Ketahanan Menjadi Pertimbangan Utama Investasi Sebanyak 88% pasar di Asia Pasifik melaporkan peningkatan permintaan terhadap proyek
sustainable fit-out, sementara 46% organisasi secara aktif menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi konsumsi energi.
Perusahaan Memprioritaskan Ruang Kerja Berkinerja Tinggi Didukung teknologi sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko, bukan lagi sekadar peningkatan fasilitas. Kondisi ini menjadikan perencanaan biaya sejak tahap awal serta pengambilan keputusan yang didasarkan pada kondisi pasar lokal semakin penting. Shweta Choudhari, Director, Research and Strategy, Work Dynamics, Asia Pacific, JLL, mengatakan bahwa pelaksanaan proyek penataan ulang kantor di Asia Pasifik kini menjadi semakin kompleks. “Meskipun situasi ekonomi ekonomi mulai beranjak stabil di beberapa wilayah sepanjang 2025 hingga awal 2026, tantangan makro ekonomi global dan regional masih memengaruhi prediktabilitas biaya, kelayakan konstruksi, serta pelaksanaan proyek di tingkat lokal. Memahami bagaimana dinamika tersebut membentuk kondisi pasar di Asia Pasifik menjadi faktor penting untuk memastikan keberhasilan perencanaan proyek dan rencana finansial perusahaan," ujarnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News