Johannes Suriadjaja: Mengatur Portofolio Investasi Butuh Seni dan Kesabaran



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berbeda jauh dari mengelola bisnis, Johannes Suriadjaja melihat bahwa mengatur portofolio investasi butuh seni dan kesabaran tingkat data.

Presiden Direktur PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) ini mengatakan baru mulai tertarik berinvestasi saat krisis ekonomi di tahun 1992. Hal itu juga didasari oleh dampak dari krisis tersebut kepada bisnis keluarga. Saat itu, dia juga ikut memberikan masukan ke sang ayah untuk turut mengatur portofolio keuangan pribadi.

“Dulu dia fokusnya ke bisnis saja, tidak melihat savings. Akibatnya, saat bisnis terdampak, keuangan keluarga pun ikut terdampak,” kata Johannes saat ditemui Kontan.co.id beberapa waktu lalu.


Johannes menjabat sebagai presiden direktur SSIA pada tahun 2001. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur SSIA periode 1996-2001.

Baca Juga: Harga Rumah Naik Akhir Tahun Lalu, Cek Rekomendasi Saham Emiten Properti Berikut Ini

Pada tahun 1986, Johannes lulus dari jurusan Marketing Management dari The American College of The Applied Art, Los Angeles. Johannes sendiri sudah tinggal di Amerika Serikat sejak di bangku SMP. Setelah lulus, dia sempat kerja di Executive Management Trainee di Toyota Motor Sales Amerika Serikat hingga tahun 1987.

Setelah kembali ke Jakarta pada tahun 1990, Johannes menjabat Corporate Banking Assistant Manager di Chase Manhattan Bank N.A Jakarta pada tahun 1990. Lalu, di tahun 1993 dia menjabat sebagai Direktur PT Multi Investment Ltd hingga tahun 1996.

Dengan sejumlah pengalaman kerja tersebut, Johannes pun menyimpulkan bahwa mengelola portofolio pribadi jauh lebih sulit dibandingkan dengan mengelola bisnis.

“Mengelola perusahaan itu bersama tim. Sementara, mengelola portofolio ada seni dan pengetahuannya sendiri. Kita juga butuh kesabaran ekstra,” tutur dia.

Baca Juga: Tips Jalani Masa Pensiun Tanpa Membebani Anak dari CEO Manulife Aset Manajemen

Pada awal belajar berinvestasi, Johannes memulainya dengan diskusi bersama teman-temannya dan juga bankir. Namun, tidak semua masukan dari bankir diterima oleh Johannes.

“Masukan dari bankir tidak semuanya saya ikuti. Saya lebih mendengar mereka yang punya pengalaman bagus dalam mengelola portofolio,” paparnya.

Johannes pun rajin membaca berita, mempelajari fundamental sektor dan emiten, serta mengamati pengalaman orang lain. Dia juga kagum dan mempelajari keputusan investasi yang kerap diambil oleh Warren Buffet.

“Investasi sebaiknya tidak dilakukan berdasarkan spekulasi, tetapi berdasarkan kepercayaan kita terhadap pertumbuhan sektor dan prospek kinerja emiten pilihan kita,” tutur dia.

Berkecimpung di dunia bisnis sejak 1992, Johannes mengaku telah melewati beberapa gejolak perekonomian. Termasuk, empat kali krisis di tahun 1992, 1998, 2008, dan 2020.

Baca Juga: Investor Bertanya, Lo Kheng Hong Menjawab Bagian 13

Dengan pengalaman itu, Johannes pun menyarankan agar investor memiliki pola pikir berinvestasi untuk jangka panjang. Investor juga disarankan untuk tidak terlalu sering melakukan jual-beli dan berani melakukan cut loss saat mengalami kerugian.

Bagi investor pemula, Johannes pun menyarankan agar melakukan riset yang maksimal agar setidaknya bisa menghasilkan imbal hasil setidaknya 8%-10% dalam satu tahun. 

“Tidak usah taruh terlalu banyak, asal konsisten dan tidak sering diambil,” tuturnya.

Johannes mengaku berinvestasi di sejumlah bursa luar negeri, seperti China, Amerika Serikat, dan Eropa. Hal itu cuma bagian dari upayanya melakukan diversifikasi portofolio saja.

Jika melihat outlook, Johannes berpendapat bahwa saat ini sektor perbankan Indonesia masih prospektif hingga beberapa tahun ke depan dan bisa dimiliki oleh para investor.

”Sektor teknologi juga prospektif. Tapi, kalau bisa pilih emiten yang sektor riil, bukan e-commerce,” papar dia.

Baca Juga: Deputy President Director Samuel Sekuritas: Lebih Cuan Berinvestasi di Saham

Dia pun mengaku beberapa kali mengalami kerugian. Terbaru, Johannes mengaku rugi 60%-70% investasinya di Bursa China, lantaran ada krisis properti dan ekonomi di sana.

Kondisi saat ini juga jauh berbeda dengan krisis tahun 2008, karena pemerintah China memutuskan tidak mau menyuntik dana sebagai bentuk bantuan kepada sektor properti. 

“Sebab, pemerintah China tengah berfokus pada sektor teknologi, bukan lagi di sektor properti,” ungkap dia.

Pengetahuannya dalam berinvestasi pun diturunkan kepada ketiga anaknya. Pola pikir Johannes untuk menyiapkan tabungan hari tua pun akhirnya diikuti oleh anak-anaknya.

“Anak bungsu saya yang masih 22 tahun sudah mulai berinvestasi di saham empat besar perbankan Indonesia dan obligasi. Tidak terlalu banyak yang dia taruh, karena memang masih kuliah,” akunya.

Saat ini, Johannes membagi sekitar 60% portofolionya di saham, baik di bursa Indonesia maupun di bursa luar negeri. Lalu, sekitar 20% di properti dan 20% di obligasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati