Jokowi-JK diminta perbaiki tata kelola migas



JAKARTA. Indonesia sebagai rumah 245 juta penduduk tengah menghadapi masalah energi yang sangat memprihatinkan. Kedaulatan energi Indonesia sedang sekarat, semakin hari virus-virusnya semakin leluasa menyebar dan merusak, bahkan bisa dikatakan sedang menuju darurat energi.

Belum lagi, masalah ini diperberat UU No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi yang memberikan kemudahan bagi asing untuk mengelola migas di Indonesia.

Juga ditambah lagi dengan undang-undang berwatak liberal yaitu UU No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal Asing, yang menyebutkan bahwa sektor migas dan pertambangan boleh dikuasai korporasi asing hingga mencapai 95%.


Ferdinan Hutahayan, Direktur Energi Watch, mengatakan bahwa gerak Pertamina sebagai penanggung jawab penuh bagi pemenuhan kebutuhan bahan bakar minyak di Indonesia menjadi terbatasi karena Undang-undang tersebut, sehingga sulit untuk membuat kilang-kilang baru di dalam negeri. Data Ditjen Migas tahun 2012 menunjukan bahwa 74% kegiatan usaha hulu atau pengeboran migas dikuasai perusahaan asing.

Di sisi lain ia berharap para pejabat yang duduk di Pertamina, Kementerian ESDM, hingga BUMN, bebas dari campur tangan asing. "Keterlibatan pihak asing ini semakin diperkuat oleh mafia-mafia migas dalam negeri yang telah berkomitmen untuk terus mengkhianati negara," tegasnya, Jumat (10/10).

Akibat mafia migas, negara rugi ribuan triliun setiap tahun. Ia minta pemerintahan Jokowi-JK harus membersihkan keterlibatan Mafia dan antek asing dalam pengelolaan migas nasional.

Erwin Djamaluddin, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Poltek Negeri Jakarta (PNJ) menambahkan bahwa energi adalah salah satu kunci utama kemajuan sebuah negara. Energi dapat menggerakan industri, ekonomi dan menanggung hajat hidup orang banyak. Sehingga pejabat harus berpihak pada kepentingan bangsa negara.

Erwin menambahkan, pemerintahan Jokowi haru mengembalikan kedaulatan dan kemandirian Energi Nasional melalui perbaikan sistem tata kelola migas. "Berantas mafia migas dan kaki tangan asing dalam pengelolaan dan penguasaan sumber energy nasional dan kami menolak kenaikan harga BBM," tegasnya.

Sebagaimana diketahui, saat ini beredar nama-nama seperti Darwin Silalahi CEO Shell yang di plot untuk Dirut Pertamina, Hengky Soesilo untuk Menteri ESDM maupun nama Ari Soemarno yang banyak diduga memiliki sejumlah masalah. (Sanusi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan