Jokowi-JK seleksi calon menteri



JAKARTA. Menjelang pelantikan, Presiden terpilih 2014-2019 Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) diam-diam terus melakukan uji kepatutan dan kepatuhan (fit and proper test) calon menteri yang akan mendampinginya dalam menjalankan tugas.   

Berganti-ganti tempat, sebanyak 46 orang dari kalangan profesional sudah lalu lalang menjalani saringan itu. Sayang, tak satupun orang-orang di kalangan Jokowi berani membocorkan nama-nama kalangan profesional itu lantaran terikat sumpah dengan presiden terpilih itu. "Itu hak Pak Jokowi," tandas Hasto Kristiyanto, Deputi Tim Transisi Jokowi-JK. Hingga jelang pelantikan 20 Oktober, kata Hasto, Jokowi-JK terus melakukan fit and proper test calon menteri. 

Sumber KONTAN memastikan sejumlah nama yang familiar di kalangan presiden terpilih akan masuk dalam susunan kabinet. Salah satunya: Rini Soemarno. 


Mantan Presdir PT Astra Internasional yang juga pernah menjadi Menteri Perindustrian akan menjadi salah satu menteri Jokowi-JK. Soal posisi, pilihan untuk Rini adalah Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Menteri Keuangan (Menkeu), dan Menteri Perdagangan. 

Nama lain yang muncul adalah Sri Mulyani sebagai kandidat Menkeu. Mbak Ani, kata sumber yang sama, dibutuhkankan karena koneksinya di dunia internasional. 

Selain itu, nama Menkeu saat ini, Chatib Basri serta Wamenkeu Bambang Brodjonegoro juga mengerucut. Adalah Partai Nasdem  yang dikabarkan mengusung nama Chatib. Tapi, "PDI-P sulit  terima Chatib," ujar sumber itu. 

Adapun, pos Menteri BUMN, tiga nama dikabarkan sudah melakukan uji kepatuhan dan kepatutan, yakni Dirut KAI Ignatius Jonan, Dirut Garuda Emirsyah Satar dan mantan Dirut Pertamina Karen Setiawan. Karen juga disebut-sebut menjadi kandidat di Kementerian ESDM, bersaing dengan Darwin Silalahi, serta Pramono Anung. 

Di posisi Menteri Perindustrian ada Erwin Aksa, Dirut Bosowa Corporation serta   Poempida Hidayatullah, politisi partai Golkar yang dekat dengan Jusuf Kalla. Tapi, buru-buru Erwin mengelak, dan memilih  menjadi pengusaha saja. (lihat grafis

Yang menarik, Jokowi-JK rupanya juga gerah dengan sepak terjang koalisi merah putih.  Makanya, Minggu malam (5/10), Jokowi mengumpulkan ekonom dan profesional di rumah transisi, Menteng.  "Beliau minta masukan menghadapi parlemen," ujar sumber KONTAN yang hadir dalam pertemuan itu. 

Jokowi masih membuka kemungkinan koalisi dengan partai yang tergabung di koalisi merah putih. Lantaran itu pula, pengumuman calon menteri sediaanya diumumkan dua pekan ini  akan mundur hingga sepekan pasca Jokowi-JK dilantik.                  

Berikut kandidat menteri ekonomi dan pekerjaan rumahnya:

- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung, Darmin Nasution, Rini  Soemarno Mengkoordinasikan program utama Jokowi di  bidang energi, ekonomi dan kemandirian pangan.

- Menteri Perdagangan Sri Adiningsih, Bayu Krisnamukti, Hendri Saparini Menjaga pasokan pangan, mengurangi impor pangan, dan memperbaiki fasilitas pedagang di pasar tradisional. Dalam jangka pendek ialah mengevaluasi pemberlakuan MEA.

- Menteri BUMN Ignatius Jonan, Andrinof Chaniago, Emirsyah Satar, Karen Agustiawan a.  Peningkatan efisiensi BUMN penyedia sektor energi seperti Pertamina, PLN dan PGN. b. Memaksimalkan BUMN sektor infrastruktur untuk mempercepat pembangunan sarana dan prasarana di seluruh Indonesia.

- Menteri Keuangan Chatib Basri, Bambang Brodjonegoro a.  Menjaga stabilitas makro ekonomi. b. Memaksimalkan potensi penerimaan negara dari sektor perpajakan dalam negeri. 

- Menteri Perindustrian Poempida Hidayatullah, Erwin Aksa Mengevaluasi MEA dan memfasilitasi investasi PMA/PMDN. Data Kementerian Perindustrian (2014), baru 31,26% atau 1.250 pos tarif dari 3.998 pos tarif produk industri manufaktur Indonesia yang memiliki daya saing di pasar Asean. Sisanya tidak siap menghadapi MEA.

- Menteri ESDM Karen Agustiawan, Evita Legowo, Koentoro Mangkusubroto, Darwin Silalahi a.  Membuat kebijakan lintas kementerian untuk mengurangi subsidi energi yang terus membengkak.  b. Mengeksekusi kebijakan energi, antara lain konversi BBM subsidi ke gas di sektor transportasi, industri, dan konsumen rumah tangga yang masih mandek. c. Memberantas mafia minyak dan gas.

- Menteri Pertanian Dwi Andreas, Henri Saragih, Bayu Krisnamukti a.  Memprioritaskan pembangunan infrastruktur pertanian.  b. Mencapai swasembada pangan.  c.  Meningkatkan kesejahteraan petani. d. Melaksanakan reforma agraria.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia