Jose Jeri, Presiden Peru yang Dimakzulkan, Salah Satu Kepala Negara Termuda di Dunia



KONTAN.CO.ID - Setelah hanya empat bulan menjabat, Jose Jeri resmi dimakzulkan oleh Kongres Peru pada Selasa (17/2/2026), menambah panjang daftar presiden yang lengser sebelum menyelesaikan masa jabatan di negara Andes tersebut.

Ia menjadi pemimpin ketiga berturut-turut yang dicopot oleh parlemen.

Jeri, 39 tahun, naik ke tampuk kekuasaan pada Oktober lalu setelah pemakzulan pendahulunya, Dina Boluarte.


Baca Juga: The Fed Perlu Cermati Dampak AI sebelum Tentukan Arah Suku Bunga

Sebelumnya, ia menjabat sebagai Ketua Kongres sejak Juli dan berada dalam garis suksesi karena Boluarte tidak memiliki wakil presiden aktif.

Dengan pelantikannya, Jeri menjadi presiden ketujuh Peru sejak 2018, sebuah cerminan ketidakstabilan politik yang berkepanjangan.

Kontroversi “Chifagate”

Masa jabatan Jeri segera dibayangi kontroversi, terutama terkait pertemuan rahasia dengan pengusaha asal China, Zhihua Yang, yang memiliki jaringan toko dan konsesi energi serta tengah berada dalam sorotan otoritas negara.

Ia terekam kamera mengenakan hoodie saat bertemu Yang di sebuah restoran China, skandal yang kemudian dijuluki “Chifagate”, merujuk pada sebutan lokal untuk restoran China di Peru.

Baca Juga: Ekspor Jepang Melonjak 16,8% pada Januari, Ditopang Permintaan Kuat dari Asia

Jeri meminta maaf atas pertemuan tersebut dan menegaskan tidak ada pelanggaran hukum.

Namun tekanan politik terus meningkat menjelang pemilihan presiden berikutnya, ketika partai-partai berlomba mencari dukungan di tengah persaingan yang terfragmentasi.

“Legitimasinya sebagai presiden memang sejak awal lemah,” kata Martin Cassinelli dari Atlantic Council’s Adrienne Arsht Latin America Center.

Ia menilai pemakzulan tersebut lebih mencerminkan kepentingan politik mayoritas parlemen daripada semata-mata penegakan keadilan.

Bukan yang Tersingkat

Meski masa jabatannya sangat singkat, Jeri bukanlah presiden dengan masa tugas terpendek dalam dekade ini.

Pada 2020, presiden interim Manuel Merino mundur kurang dari sepekan setelah gelombang protes besar yang menewaskan dua demonstran.

Baca Juga: Deteksi Ledakan Aneh di Lop Nur: Apakah China Langgar Perjanjian Nuklir?

Pemecatan Jeri kembali menyoroti volatilitas politik Peru menjelang pemilihan presiden pada April mendatang.

Para analis memperkirakan sistem pemilu yang terfragmentasi kemungkinan besar kembali menghasilkan pemerintahan tanpa mayoritas kuat, sehingga presiden berikutnya tetap rentan terhadap ancaman pemakzulan.

Latar Belakang dan Tuduhan

Lahir dari keluarga kelas menengah di Lima, Jeri menyelesaikan pendidikan di Federico Villarreal National University pada 2014 dan kemudian meraih gelar hukum dari universitas swasta di ibu kota.

Ia bergabung dengan partai konservatif Somos Peru pada 2013 dan dua kali gagal dalam pemilihan tingkat kota.

Pada 2021, ia awalnya tidak memperoleh kursi parlemen, tetapi akhirnya masuk menggantikan Martin Vizcarra, yang didiskualifikasi sebelum dilantik sebagai anggota Kongres. Vizcarra sendiri pernah menjabat presiden Peru periode 2018–2020.

Baca Juga: Trump Umumkan Proyek Energi dan Mineral Kritis di Texas, Ohio, dan Georgia

Pada Januari 2025, Jeri juga sempat menghadapi tuduhan pelecehan seksual terkait sebuah pesta pada bulan sebelumnya.

Namun kasus tersebut dihentikan pada Agustus oleh jaksa agung karena kurangnya bukti. Jeri membantah semua tuduhan.

Selama menjabat presiden, ia kembali menjadi sorotan setelah memberikan kontrak negara kepada sejumlah perempuan yang sebelumnya bertemu dengannya dalam pertemuan larut malam di istana kepresidenan.

Kepergian Jeri dari kursi kepresidenan kembali mempertegas pola krisis politik berkepanjangan di Peru, di mana pergantian pemimpin terjadi begitu cepat dan stabilitas pemerintahan tetap menjadi tantangan besar.

Selanjutnya: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 18 Februari 2026 Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 18 Februari 2026 Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta