KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek kinerja PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (
JPFA) pada 2026 diperkirakan menghadapi tekanan, seiring potensi kenaikan biaya produksi yang dapat menekan margin emiten unggas tersebut. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai lonjakan biaya bahan baku menjadi tantangan utama bagi JPFA tahun ini.
Kenaikan harga komoditas global, khususnya minyak mentah, berpotensi mendorong permintaan biodiesel yang berbasis crude palm oil (CPO). Dampaknya, harga bungkil kedelai atau soybean meal (SBM) sebagai bahan baku pakan turut terdorong naik. “Dengan biaya produksi yang meningkat, tentu ini menjadi headwinds bagi JPFA. Margin di tahun ini berpotensi terkompres,” ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (29/4/2026). Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor penekan tambahan, mengingat sebagian bahan baku seperti kedelai masih bergantung pada impor. Kondisi ini turut meningkatkan beban biaya impor perseroan.
Baca Juga: Begini Rekomendasi Saham dan Prospek Japfa (JPFA) Usai Cetak Lonjakan Laba di 2025 Kemudian, Equity Research Associate Samuel Sekuritas Indonesia, Fadhlan Banny, mencermati tekanan terhadap kinerja JPFA juga diperparah oleh inisiatif pemerintah yang menunjuk Berdikari sebagai pintu tunggal impor SBM nasional, serta penguatan hubungan dagang Indonesia dengan Amerika Serikat yang berpotensi meningkatkan ketergantungan pada SBM asal AS yang relatif lebih mahal. Namun, Fadhlan menyebut dinamika pasokan-permintaan yang kondusif menjaga harga DOC dan ayam hidup tetap tinggi pada 2026. Di sisi lain, JPFA diperkirakan masih akan diuntungkan oleh harga broiler dan DOC yang tetap kuat, didukung oleh kondisi pasokan domestik yang lebih ketat. “Keterbatasan pasokan ini sebagian dipicu oleh kebijakan pemerintah Indonesia yang menurunkan kuota impor GPS menjadi 535 ribu pada 2024 atau turun 22,6% secara tahunan, yang bertujuan menstabilkan bahkan membatasi pertumbuhan pasokan hingga kondisi pasar 2026,” tulis Fadhlan dalam riset 22 April 2026. Sementara itu, permintaan ayam diproyeksikan meningkat secara struktural, didukung tambahan permintaan sebesar 0,67 juta ton, atau sekitar 14% dari total permintaan 2026. Hal ini didorong oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah. Nafan juga meyakini bahwa di tengah kondisi ekonomi 2026 yang menantang akibat tekanan energi, JPFA masih memiliki daya tahan kinerja yang cukup baik. Hal ini ditopang oleh model bisnis terintegrasi secara vertikal yang dimiliki perusahaan, mulai dari pakan ternak hingga produk hilir. “JPFA masih memiliki ketahanan karena bisnisnya terintegrasi secara vertikal. Selain itu, daging ayam tetap menjadi sumber protein hewani yang paling terjangkau di masyarakat,” imbuh Nafan.
Baca Juga: Moody’s Beri Rating Ba3 ke Japfa, Tapi Waspadai Risiko Industri Peternakan Equity Research Analyst Ajaib Sekuritas Asia, Alvin Timothy Murthi, juga berpandangan JPFA dalam posisi yang diuntungkan dari rencana investasi hilirisasi sektor unggas oleh Danantara senilai Rp 20 triliun yang ditujukan untuk mendukung program MBG. Proyek tersebut diperkirakan akan menambah kapasitas produksi sekitar 1,5 juta ton daging ayam dan 1,0 juta ton telur, yang setara dengan peningkatan konsumsi masing-masing sebesar 29% dan 13%. Investasi yang mencakup pembangunan pabrik pakan, peternakan, hingga fasilitas pengolahan melalui skema kemitraan ini dinilai mampu memberikan visibilitas permintaan yang lebih kuat bagi JPFA. Selain itu, adanya jaminan penyerapan (offtake) turut menopang stabilitas pendapatan, sehingga meningkatkan kepastian pertumbuhan kinerja dalam jangka menengah. “Memasuki kuartal I-2026, kinerja JPFA diperkirakan relatif stabil dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal ini ditopang oleh harga yang tetap solid, dengan harga live bird berada di kisaran Rp 22.054 per ekor atau naik 2,12% secara kuartalan dan 14,75% secara tahunan,” ujar Alvin dalam riset 16 April 2026. Namun demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah sentimen negatif. Selain tekanan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga bahan baku impor, dinamika kebijakan tarif global juga berpotensi memengaruhi biaya dan rantai pasok.
Melansir laporan keuangannya, JPFA mampu meraih laba bersih senilai Rp 4 triliun pada tahun 2025, melonjak 32,63% dari tahun sebelumnya yang tercatat Rp 3 triliun. Sejalan dengan itu, penjualan perusahaan pada tahun 2025 juga meningkat 8,8% menjadi Rp 60,71 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp 55,8 triliun.
Berdasarkan estimasi Fadhlan, pendapatan JPFA diperkirakan mencapai Rp 66,79 triliun, atau meningkat 10% dari realisasi 2025. Namun demikian, dari sisi profitabilitas, laba bersih JPFA pada 2026 diproyeksikan sedikit menurun 0,8% menjadi Rp 3,97 triliun, dibandingkan dengan capaian 2025. Dengan berbagai faktor tersebut, Nafan merekomendasikan saham JPFA untuk wait and see terlebih dahulu sambil mencermati perkembangan biaya produksi dan kondisi makroekonomi ke depan. Sementara Alvin memberikan rekomendasi buy saham JPFA dengan target harga Rp 3.200 per saham. Adapun Fadhlan memberikan rekomendasi untuk hold saham JPFA dengan target harga Rp 2.400 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News