KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Global Jet Express (J&T Express) memandang prospek bisnis logistik pada 2026 tetap positif seiring meningkatnya kebutuhan pengiriman di segmen e-commerce dan non-platform, termasuk korporasi dan B2B. Perusahaan menargetkan penguatan pangsa pasar melalui perluasan kanal pemesanan serta peningkatan kontribusi pelanggan non-platform terhadap kinerja. Komisaris J&T Express Iwan Senjaya mengatakan, pada 2026 J&T akan tetap memprioritaskan penguatan posisi di segmen e-commerce, sembari memperluas basis pelanggan di luar platform digital.
Baca Juga: Jadi Pendongkrak Otomotif Awal Tahun, Target Transaksi IIMS 2026 Tembus Rp 8 Triliun Menurut dia, ruang pertumbuhan di segmen non-platform masih terbuka lebar, terutama dari kalangan korporasi, UMKM, hingga institusi. “Prospek bisnis kami tetap positif seiring pertumbuhan kebutuhan logistik di e-commerce, pengiriman reguler, dan B2B. Fokus kami memperkuat posisi di e-commerce sekaligus mengembangkan basis pelanggan non-platform,” kata Iwan kepada Kontan, Selasa (27/1/2026). Ia menambahkan, J&T juga memperluas kanal pemesanan untuk menjangkau kebutuhan pengiriman yang lebih beragam. Langkah ini diharapkan dapat memperluas pangsa pasar sekaligus meningkatkan kenyamanan pelanggan. “Dengan perluasan kanal pemesanan, kami ingin memperkuat kontribusi segmen non-platform terhadap kinerja perusahaan,” ujarnya. Meski demikian, Iwan mengakui tantangan operasional masih membayangi bisnis logistik tahun ini. Salah satunya adalah cuaca ekstrem dan banjir yang sempat memutus sejumlah akses jalan dan berdampak pada keterlambatan pengiriman.
Baca Juga: Sepanjang 2025 Indonesia Punya 19,3 GW PLTU Captive, Mayoritas dari Industri Nikel Di sisi lain, peningkatan volume paket dinilai menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mengerek kinerja operasional. “Tantangan utama saat ini adalah cuaca ekstrem. Namun, peningkatan volume paket juga menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja operasional,” kata Iwan. Untuk mengantisipasi potensi kenaikan biaya operasional, J&T menerapkan strategi efisiensi melalui optimalisasi sistem kerja dan pemanfaatan sumber daya yang ada. Langkah ini dilakukan agar biaya dapat ditekan tanpa mengorbankan kualitas layanan. “Strategi kami adalah mengoptimalkan sistem kerja serta pemanfaatan sumber daya, sehingga efisiensi meningkat dan biaya operasional bisa ditekan tanpa menurunkan kualitas layanan,” ujarnya. Memasuki periode
peak season kuartal I, J&T menyiapkan skema operasional terintegrasi dari sisi sumber daya manusia maupun pendukung operasional lainnya. Perusahaan juga memperkuat proses kerja di lapangan serta meningkatkan kapasitas dan kompetensi SDM. “Langkah yang kami lakukan mencakup penguatan proses kerja, peningkatan kapasitas SDM, serta evaluasi berkelanjutan terhadap alur operasional. Dengan pendekatan ini, operasional diharapkan tetap efektif dan efisien selama lonjakan volume,” kata Iwan.
Baca Juga: KAI Tambah 62 Perjalanan Kereta Api per Hari Selama Mudik Lebaran Terkait arus mudik akhir Ramadan dan pembatasan kendaraan, Iwan menilai dampaknya terhadap operasional relatif terbatas. Pasalnya, pembatasan kendaraan umumnya diberlakukan setelah masa
peak season pengiriman yang biasanya terjadi lebih awal. “Secara keseluruhan, pembatasan kendaraan tidak memberikan dampak signifikan. Namun, kami tetap menyiapkan rute alternatif dan metode pengiriman lain dengan mempertimbangkan ketepatan waktu dan efisiensi biaya,” ujarnya.
Ke depan, J&T optimistis segmen e-commerce dan B2B tetap menjadi motor pertumbuhan utama. Dengan penguatan jaringan, efisiensi operasional, serta perluasan basis pelanggan non-platform, perusahaan membidik pertumbuhan volume dan pendapatan yang berkelanjutan sepanjang 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News