Analisis Saham UNVR: Setelah Jual Sariwangi, Layak Beli?
Kamis, 08 Januari 2026 05:30 WIB
Diperbarui Kamis, 08 Januari 2026 05:59 WIB
Oleh: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) resmi melepas bisnis teh bermerek Sariwangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa yang merupakan bagian dari grup Djarum senilaii Rp 1,5 triliun, di luar pajak yang berlaku. Dengan penjualan tersebut, apakah saham UNVR yang berkategori blue chip ini semakin menarik dikoleksi atau malah dijual? Langkah divestasi ini dinilai berpotensi memberikan dampak positif terhadap kinerja Unilever Indonesia dalam jangka menengah hingga panjang. Head of Research Kisi Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai pelepasan bisnis teh Sariwangi merupakan keputusan strategis untuk meningkatkan efisiensi dan fokus bisnis perseroan. Menurut Wafi, pasar teh nasional cenderung sudah jenuh dengan laju pertumbuhan yang relatif terbatas. Kondisi ini berbeda dengan segmen personal care dan consumer foods yang masih menawarkan prospek pertumbuhan dan margin keuntungan yang lebih tinggi.
“Dana sebesar Rp 1,5 triliun dari transaksi ini dapat memperkuat struktur neraca Unilever Indonesia dan memungkinkan perusahaan untuk lebih fokus mengembangkan bisnis inti,” ujar Wafi kepada Kontan, Rabu (7/1/2026). Baca Juga: Kinerja Emiten CPO Masih Prospektif pada 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya Dari perspektif investor, aksi korporasi ini dinilai sebagai sentimen positif bagi saham UNVR. Wafi menyebutkan, dana hasil divestasi berpeluang dibagikan sebagai dividen spesial, mengingat rekam jejak Unilever Indonesia yang konsisten dalam membagikan dividen kepada pemegang saham. “Buat investor, ini jelas menjadi sentimen positif,” kata Wafi. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa jika seluruh dana langsung dialokasikan untuk dividen, dampak positif terhadap harga saham UNVR kemungkinan hanya bersifat jangka pendek. Sebaliknya, jika dana tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat strategi pemasaran dan meningkatkan daya saing terhadap produk lokal, manfaatnya dinilai akan lebih berkelanjutan. Sejalan dengan pandangan tersebut, Praktisi Pasar Modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, menilai aksi pelepasan bisnis oleh UNVR bukan kali pertama dilakukan dan umumnya disambut positif oleh pasar. William mencontohkan, pada tahun 2025 lalu, saham UNVR mengalami penguatan sejak Maret setelah perusahaan melakukan aksi divestasi serupa. “Saya memperkirakan kondisi yang sama berpeluang kembali terjadi, apalagi hingga saat ini saham UNVR belum mengalami tekanan jual yang signifikan,” jelasnya. Tonton: Nadiem Bantah Perkaya Diri Sendiri: Tidak Sepeser pun Masuk ke Kantong Saya Dari sisi teknikal, William merekomendasikan strategi buy on weakness dengan area support saham UNVR di level Rp 2.500 per saham. Ia memproyeksikan target harga UNVR berada di kisaran Rp 2.740 hingga Rp 3.000 per saham. Sementara itu, Muhammad Wafi merekomendasikan beli saham UNVR dengan target harga Rp 2.850 per saham. Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan pada Rabu (7/1/2026), Unilever Indonesia telah menandatangani perjanjian pengalihan bisnis atau business transfer agreement (BTA) pada 6 Januari 2026. Penyelesaian transaksi direncanakan berlangsung pada 2 Maret 2026 atau pada tanggal lain yang disepakati para pihak. Baca Juga: Prospek Kinerja PGN (PGAS) Dinilai Positif, Begini Rekomendasi Sahamnya Sekretaris Perusahaan UNVR, Padwestiana Kristanti, menyampaikan bahwa penjualan bisnis teh tersebut memungkinkan perseroan merealisasikan nilai investasinya dan mengembalikan nilai tersebut kepada pemegang saham dalam jangka pendek, sekaligus memfokuskan sumber daya pada bisnis inti guna meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka panjang. Nilai transaksi ini setara dengan sekitar 45% dari ekuitas UNVR berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Terdaftar Siddharta Widjaja & Rekan (anggota jaringan KPMG). Selain itu, total aset bisnis teh Sariwangi tercatat sekitar 2,5% dari total aset UNVR. Kontribusi laba bersih segmen tersebut mencapai 3,1% dari total laba bersih perseroan, dengan porsi pendapatan usaha sekitar 2,7%.
Manajemen menegaskan bahwa transaksi ini tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, maupun kelangsungan usaha Unilever Indonesia ke depan.
BPS Catat Ekspor Indonesia Turun 6,60% Jadi US$ 22,52 Miliar per November 2025