Jual ruas tol, Waskita bidik Rp 4 triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Waskita Karya Tbk (WSKT) melanjutkan rencana divestasi aset jalan tol pada tahun depan. Ada tiga pilihan skema divestasi. Dari aksi tersebut, emiten konstruksi pelat merah ini menargetkan dana minimal Rp 4 triliun.

Direktur Utama WSKT M. Choliq menjelaskan ihwal tiga skema rencana divestasi yang mungkin ditempuh pada 2018 tersebut. Pertama, WSKT menjual satu per satu ruas jalan tol. Sebagai contoh, WSKT akan mendivestasikan ruas tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu). "Di skema satu, yang paling banyak peminatnya adalah Becakayu. Nanti kalau sudah mendekati deal, saya pasti akan umumkan," ungkap Choliq, kemarin.

Skema kedua, WSKT akan menjual beberapa ruas tol yang berurutan dan terus menerus bergandengan. Contohnya, ruas tol Trans Jawa yang terdiri dari tujuh ruas, yakni Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang, Pemalang-Batang, Batang-Semarang, Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono serta Pasuruan-Probolinggo.


Ruas tol ini harus di-bundling agar memberikan nilai tambah. Saat ini, proses divestasi tujuh ruas tol terus berjalan. Dua calon investor yang menunjukkan keseriusan adalah PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dan PT Astratel Nusantara, anak usaha Grup Astra.

Skema ketiga, WSKT akan menjual saham baru di anak usaha, yakni PT Waskita Toll Road (WTR). Pada skema ini, Choliq menyebutkan beberapa calon investor yang berminat. Mereka adalah Islamic Development Bank (IDB), Saudi Arabian Oil Co dan Khazanah Nasional Bhd.Ketiganya bersama-sama membentuk konsorsium, di mana Samuel Sekuritas selaku lead.

Saat ini, aset WTR masih dimiliki WSKT, PT Taspen dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Saat WTR menerbitkan saham baru, tentu semua pemegang saham berhak membelinya.

Namun, Choliq memprediksi, Taspen dan SMI tak akan mengeksekusi hak mereka. "Berarti mereka (SMI dan Taspen) dilusi, tidak out tapi dilusi. Yang konsorsium, mereka ingin mayoritas. Saya persilakan sepanjang harganya oke," ungkap dia.

Di luar sederet calon investor tadi, Choliq bilang, beberapa perusahaan asal Tiongkok juga berminat pada aset WSKT. Namun perusahaan tersebut tak hanya mengincar kepemilikan saham, tetapi juga berminat menjadi kontraktor. Dus, WSKT butuh banyak pertimbangan untuk memilih investor Tiongkok.

Manajemen belum bisa memastikan skema mana yang dieksekusi. Yang pasti, pada 2018, WSKT membidik Rp 4 triliun dari divestasi jalan tol. Pada dasarnya, WSKT berniat menjual semua 18 ruas tol miliknya, mana yang lebih dulu, tergantung harga dan minat investor. "Sebelumnya, SMI dan Taspen membeli 18 ruas tol dengan rata-rata 1,5 kali PBV. Secara agregat, saya tidak mau divestasi nanti kurang dari 1,5 kali PBV. Itu patokannya," ungkap Choliq.

Tahun ini, WSKT menargetkan pendapatan usaha Rp 40 triliun dan laba bersih Rp 4 triliun. Pada 2018, pendapatan usaha dan laba bersih diprediksi tumbuh 37,5% dan 32,5% menjadi Rp 55 triliun dan Rp 5,3 triliun. "Targetnya sedikit melambat. Tapi saya yakin pencapaiannya di atas rata-rata industri," tutur Choliq.

Untuk mencapai target tersebut, WSKT membutuhkan pendanaan Rp 44 triliun. Dari jumlah itu, senilai Rp 31 triliun berasal dari pembayaran turnkey, Rp 4 triliun dari rencana divestasi sebesar Rp 2,8 triliun dari tambahan ekuitas laba. Adapun Rp 8 triliun akan diambil dari utang.

WSKT berencana menerbitkan obligasi dalam dua tahap, sebagai bagian dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) III yang nilainya Rp 10 triliun. "Tahun depan akan ada tambahan obligasi Rp 7 triliun," kata Direktur Keuangan & Strategi WSKT Tunggul Rajagukguk.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji menilai, upaya WSKT menempuh beberapa cara untuk divestasi merupakan pilihan wajar.

Skema kedua dinilai lebih menarik. Skema ini menawarkan satu paket ruas tol yang bergandengan, khususnya Tol Trans Jawa yang meliputi tujuh ruas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini