Jumlah Kasus Covid-19 Tembus Rekor Tahunan, Prospek Ekonomi China Makin Suram



KONTAN.CO.ID - BEIJING. China mencatat rekor jumlah infeksi Covid-19 tertinggi tahun ini pada hari Rabu (23/11). Kondisi ini memaksa pemerintah untuk memperketat pembatasan yang berujung pada terhambatnya aktivitas ekonomi.

Dilansir Reuters, China mencatat 31.444 kasus Covid-19 baru di hari Rabu. Catatan memecahkan rekor pada 13 April lalu di Shanghai yang jumlahnya sekitar 27.000 kasus.

Lonjakan kasus itu diprediksi akan membuat investor semakin ragu. Saham China pun jatuh pada hari Kamis (24/11) karena kekhawatiran atas beban kasus tertinggi membayangi optimisme dari stimulus ekonomi baru.


Serangkaian pembatasan di bawah kebijakan nol-Covid juga berdampak pada warga yang kini semakin frustrasi.

Produksi di pabrik-pabrik mulai terhenti, termasuk pabrik iPhone terbesar di dunia yang ada di kota Zhengzhou.

Baca Juga: Kebijakan Xi Jinping Ini Bikin Warga Ramai-ramai Ingin Hengkang dari China

Pemerintah China masih terpaku pada kebijakan nol-Covid yang menjadi salah satu kebijakan anti-Covid paling ketat di dunia. Kebijakan ketat ini sayangnya benar-benar mengorbankan aktivitas ekonomi. Di saat yang sama, penyebaran virus juga gagal dihentikan.

Analis dari Nomura menyebut bahwa para pialang telah memangkas perkiraan PDB untuk kuartal keempat dan setahun penuh.

"Pialang memangkas perkiraan PDB untuk kuartal keempat menjadi 2,4% YoY dari 2,8%, dan juga memangkas perkiraannya untuk pertumbuhan setahun penuh menjadi 2,8% dari 2,9%," tulis Nomura, seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: WHO dan CDC Sepakat Penyakit Ini Jadi Ancaman Global Terbaru Akibat Pandemi

Analis Nomura memperkirakan bahwa lebih dari seperlima dari total PDB China kini terdampak aturan pembatasan. 

Salah satu penyebabnya adalah pembatasan super ketat di Shanghai yang berdampak pada 25 juta penduduknya. 

"Penguncian penuh seperti di Shanghai dapat dihindari, tetapi mungkin akan digantikan oleh penguncian parsial yang lebih sering di sejumlah kota yang meningkat karena jumlah kasus Covid melonjak," lanjut Nomura.

Belakangan ini beberapa kota menerapkan penguncian dalam skala yang lebih kecil, beberapa dilakukan tanpa pemberitahuan. Di saat yang sama, China mulai melonggarkan beberapa tindakan terkait dengan pengujian massal dan karantina, dan berusaha menghindari terulangnya pembatasan ketat yang terjadi di Shanghai.