Jumlah Startup di RI Belum Diimbangi Kualitas, Ekonom Sorot Kepercayaan Investor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekosistem startup nasional terus meningkat dari sisi kuantitas, tetapi kualitas startup belum mencerminkan pertumbuhan serupa. Ekonom menilai kepercayaan investor menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas startup di Indonesia.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan, berdasarkan Startup Ranking, terdapat 3.100 startup aktif di Indonesia. Hal ini membuat Indonesia menduduki peringkat keenam di dunia dengan jumlah startup terbanyak, serta pertama di Asia Tenggara.

Kendati begitu, mengacu Global Startup Ecosystem Index 2026, kualitas ekosistem startup Tanah Air masih di posisi ke-45 di dunia.


Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, isu industri startup di Indonesia terletak pada banyaknya startup yang masih berorietnasi pada ekspansi dengan pembakaran modal. Padahal, fondasi profitabilitas dan tata kelola mereka belum cukup kuat.

Baca Juga: Kemenperin Bidik Startup Jadi Mitra Transformasi Industri Manufaktur

Beberapa kasus kegagalan tata kelola, lanjutnya, juga sempat memengaruhi kepercayaan investor. Yusuf menilai, hal ini tercermin dari kondisi pendanaan yang semakin ketat.

"Sepanjang 2025, pendanaan startup nasional hanya sekitar US$ 355 juta, turun hampir separuh dari tahun sebelumnya," ujarnya kepada Kontan, Minggu (9/8/2026).

Di sisi lain, dia mencermati Indonesia juga masih menghadapi kesenjangan talenta digital, konsentrasi ekosistem di Pulau Jawa terutama Jakarta, serta akses riset dan inkubasi yang belum merata.

Karena itu, dari sisi kebijakan, Yusuf melihat fokusnya perlu bergeser dari sekadar memperbanyak jumlah startup menjadi membangun startup yang menyelesaikan masalah riil ekonomi.

Menurut dia, dalam hal ini pemerintah dapat mendorong industri nasional menjadi pasar awal bagi solusi teknologi lokal, sekaligus mempertemukan startup dengan industri dan universitas untuk memperkuat riset dan transfer teknologi.

"Tata kelola, literasi keuangan pendiri, dan kesiapan investasi juga perlu diperbaiki agar startup lebih mampu menarik modal dan tumbuh secara sehat," imbuh Yusuf.

Baca Juga: IDPRO: Tantangan Startup Indonesia Kini Bukan Lahir, tetapi Naik Kelas

Bagaimanapun, di tengah sejumlah tantangan, peluang pertumbuhan startup dinilai masih besar. Yusuf menyebut, Indonesia memiliki banyak isu ekonomi yang membutuhkan solusi teknologi.

"Sektor business-to-business (B2B), misalnya, punya ruang yang sangat luas untuk membantu industri kecil dan menengah dalam digitalisasi produksi, inventori, rantai pasok, dan akses pasar," lanjutnya.

Pada sektor manufaktur, Yusuf melihat teknologi seperti otomasi, Internet of Things (IoT), dan artificial intelligence (AI) semakin relevan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

"Agritech (teknologi bidang pertanian), cold chain, green tech (teknologi ramah lingkungan), manajemen karbon, healthtech (teknologi kesehatan), serta pemanfaatan AI untuk ekonomi kreatif juga memiliki prospek yang kuat," tandas Yusuf.

Baca Juga: STARFINDO Bidik Perluasan Investasi dan Pasar Global untuk Startup Industri

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: