KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Kabut asap yang menyelimuti Singapura akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai menimbulkan kekhawatiran menjelang pelaksanaan Singapore Grand Prix. Jika kualitas udara semakin memburuk, sejumlah aktivitas luar ruangan di sekitar ajang Formula 1 (F1) berpotensi dibatasi. Federation Internationale de l'Automobile (FIA), badan pengatur olahraga otomotif dunia, menyatakan pembatasan dapat diberlakukan terhadap kegiatan hiburan luar ruangan selama akhir pekan Singapore Grand Prix. Namun, kondisi tersebut sejauh ini belum diperkirakan mengganggu jalannya balapan F1. Singapura telah diselimuti kabut asap selama beberapa pekan. Kualitas udara di negara tersebut saat ini berada dalam kategori "tidak sehat", hanya sehari menjelang dimulainya rangkaian balapan F1.
Situasi tersebut juga terjadi ketika Singapura tengah menjadi lokasi berbagai konferensi yang menghadirkan para pemimpin regional, pelaku bisnis, industri cryptocurrency, serta tokoh olahraga dari berbagai negara. Meski kabut asap berasal dari kebakaran yang disebut sebagai yang terparah di Indonesia dalam lebih dari satu dekade, kondisi kualitas udara tersebut belum diperkirakan mengancam aktivitas di lintasan maupun pelaksanaan balapan malam F1 di Singapura.
Baca Juga: Impor Kontainer AS Tembus Rekor September 2026, Kiriman dari China Melonjak Juru bicara FIA mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan kualitas udara bersama otoritas setempat. "Level kualitas udara sedang dipantau oleh otoritas lokal terkait, dan langkah-langkah kontingensi yang sesuai telah disiapkan," ujar juru bicara FIA. FIA belum menetapkan ambang batas kualitas udara tertentu yang akan menjadi dasar untuk mengaktifkan rencana pembatasan terhadap kegiatan hiburan maupun aktivitas luar ruangan lainnya. Menurut FIA, pihaknya mengikuti rekomendasi otoritas setempat dan bekerja sama secara erat untuk menjaga kesehatan seluruh tim F1 yang terlibat dalam Singapore Grand Prix. Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) serta badan pariwisata Singapura belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait kondisi tersebut. Dalam pembaruan mengenai kabut asap pada Rabu malam, NEA menyatakan bahwa arah angin berpotensi membawa asap dari wilayah terdampak di Indonesia menuju Singapura. "Di bawah pengaruh angin tenggara hingga selatan yang berlaku saat ini, kabut asap dari wilayah-wilayah tersebut kemungkinan akan terus bergerak menuju Singapura," kata NEA.
Baca Juga: AS Mulai Buka Dialog Langsung dengan Pemerintah Militer Myanmar, Ini Agendanya Pengalaman Kabut Asap pada F1 Singapura 2019
Kondisi serupa pernah terjadi saat Singapore Grand Prix 2019. Ketika itu, kualitas udara juga berada dalam kategori "tidak sehat" selama berlangsungnya ajang Formula 1.
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan, penyelenggara ketika itu menyiagakan bantuan pertolongan pertama serta menyediakan masker N95 bagi penonton atau pihak lain yang membutuhkannya. Dengan kondisi kabut asap kembali memburuk menjelang Singapore Grand Prix tahun ini, penyelenggara dan otoritas Singapura kini terus memantau kualitas udara untuk menentukan langkah mitigasi yang diperlukan. Meski demikian, FIA menegaskan bahwa kabut asap dan kualitas udara yang buruk saat ini belum diperkirakan mengganggu aktivitas balapan di lintasan. Perhatian utama saat ini berada pada kegiatan hiburan dan aktivitas luar ruangan lain yang menjadi bagian dari rangkaian acara Singapore Grand Prix, terutama jika kualitas udara terus memburuk hingga akhir pekan.