KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu operasional penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Kalimantan. Gangguan penerbangan terjadi karena jarak pandang (visibility) di sejumlah bandara turun di bawah batas aman untuk lepas landas dan mendarat. Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto mengatakan, gangguan akibat kabut asap mulai terjadi sejak pertengahan Agustus 2026. Menurut dia, penurunan jarak pandang membuat maskapai harus menyesuaikan operasional penerbangan dengan kondisi di masing-masing bandara. Baca Juga: Onduline Bidik Cuan dari Proyek Sekolah Rakyat, Permintaan Tumbuh 70% “Dampaknya sudah mulai terasa, terutama ketika visibility turun di bawah batas aman untuk lepas landas dan mendarat. Namun, sejauh ini gangguannya masih terlokalisir di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan sebagian Papua,” kata Bayu kepada KONTAN, Rabu (26/8). Di Kalimantan Barat, Bandara Supadio Pontianak mengalami sedikitnya 21 penerbangan delay pada 18-21 Agustus 2026. Selain itu, satu penerbangan dari Jakarta terpaksa dialihkan ke Batam karena tidak dapat mendarat di Bandara Supadio. Gangguan tersebut terutama terjadi pada pagi hari pukul 06.00-08.00 WIB. Pada periode tersebut, jarak pandang di Bandara Supadio berada di bawah 1.000 meter. Sementara itu, Bandara Singkawang juga mengalami gangguan operasional. Sejumlah penerbangan TransNusa dan Super Air Jet rute Jakarta-Singkawang pergi pulang (PP) dibatalkan pada 16, 18, dan 19 Agustus 2026. Gangguan serupa terjadi di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Kabut asap menyebabkan keterlambatan sejumlah penerbangan NAM Air dari dan menuju Jakarta, Semarang, serta Surabaya. Di Papua, penerbangan Wings Air rute Timika-Nabire juga mengalami penundaan atau pengalihan pada 21-22 Agustus 2026. Jarak pandang di Bandara Nabire saat itu hanya sekitar 2,6 kilometer. Bayu menilai, gangguan tersebut belum memberikan dampak yang luas terhadap industri penerbangan nasional. Namun, kondisi tersebut berpotensi berubah apabila kabut asap berlangsung lebih lama. “Belum industry-wide seperti 2015. Namun, kalau asap bertahan dua sampai empat minggu, gangguan bisa meluas ke kinerja dan keuangan maskapai,” ujarnya. Menurut Bayu, kabut asap yang berkepanjangan dapat menimbulkan efek berantai terhadap operasional maskapai. Keterlambatan satu pesawat pada penerbangan pagi dapat mengganggu rotasi pesawat untuk penerbangan berikutnya. Dari sisi biaya, maskapai juga berpotensi menanggung tambahan biaya bahan bakar saat holding dan pengalihan penerbangan ke bandara alternatif. Selain itu, maskapai dapat menghadapi biaya tambahan untuk refund, penjadwalan ulang, serta akomodasi penumpang yang terdampak. Untuk mengantisipasi gangguan, maskapai dapat menyesuaikan jadwal penerbangan dengan kondisi visibility. Salah satunya dengan menggeser penerbangan pagi ke waktu saat jarak pandang mulai membaik. Baca Juga: Saraswanti (SWID) Buka Hotel Bintang Lima di Yogyakarta, Perbesar Recurring Income
Kabut Asap Mulai Ganggu Penerbangan, INACA Waspadai Dampak ke Kinerja Maskapai
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu operasional penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Kalimantan. Gangguan penerbangan terjadi karena jarak pandang (visibility) di sejumlah bandara turun di bawah batas aman untuk lepas landas dan mendarat. Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto mengatakan, gangguan akibat kabut asap mulai terjadi sejak pertengahan Agustus 2026. Menurut dia, penurunan jarak pandang membuat maskapai harus menyesuaikan operasional penerbangan dengan kondisi di masing-masing bandara. Baca Juga: Onduline Bidik Cuan dari Proyek Sekolah Rakyat, Permintaan Tumbuh 70% “Dampaknya sudah mulai terasa, terutama ketika visibility turun di bawah batas aman untuk lepas landas dan mendarat. Namun, sejauh ini gangguannya masih terlokalisir di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan sebagian Papua,” kata Bayu kepada KONTAN, Rabu (26/8). Di Kalimantan Barat, Bandara Supadio Pontianak mengalami sedikitnya 21 penerbangan delay pada 18-21 Agustus 2026. Selain itu, satu penerbangan dari Jakarta terpaksa dialihkan ke Batam karena tidak dapat mendarat di Bandara Supadio. Gangguan tersebut terutama terjadi pada pagi hari pukul 06.00-08.00 WIB. Pada periode tersebut, jarak pandang di Bandara Supadio berada di bawah 1.000 meter. Sementara itu, Bandara Singkawang juga mengalami gangguan operasional. Sejumlah penerbangan TransNusa dan Super Air Jet rute Jakarta-Singkawang pergi pulang (PP) dibatalkan pada 16, 18, dan 19 Agustus 2026. Gangguan serupa terjadi di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Kabut asap menyebabkan keterlambatan sejumlah penerbangan NAM Air dari dan menuju Jakarta, Semarang, serta Surabaya. Di Papua, penerbangan Wings Air rute Timika-Nabire juga mengalami penundaan atau pengalihan pada 21-22 Agustus 2026. Jarak pandang di Bandara Nabire saat itu hanya sekitar 2,6 kilometer. Bayu menilai, gangguan tersebut belum memberikan dampak yang luas terhadap industri penerbangan nasional. Namun, kondisi tersebut berpotensi berubah apabila kabut asap berlangsung lebih lama. “Belum industry-wide seperti 2015. Namun, kalau asap bertahan dua sampai empat minggu, gangguan bisa meluas ke kinerja dan keuangan maskapai,” ujarnya. Menurut Bayu, kabut asap yang berkepanjangan dapat menimbulkan efek berantai terhadap operasional maskapai. Keterlambatan satu pesawat pada penerbangan pagi dapat mengganggu rotasi pesawat untuk penerbangan berikutnya. Dari sisi biaya, maskapai juga berpotensi menanggung tambahan biaya bahan bakar saat holding dan pengalihan penerbangan ke bandara alternatif. Selain itu, maskapai dapat menghadapi biaya tambahan untuk refund, penjadwalan ulang, serta akomodasi penumpang yang terdampak. Untuk mengantisipasi gangguan, maskapai dapat menyesuaikan jadwal penerbangan dengan kondisi visibility. Salah satunya dengan menggeser penerbangan pagi ke waktu saat jarak pandang mulai membaik. Baca Juga: Saraswanti (SWID) Buka Hotel Bintang Lima di Yogyakarta, Perbesar Recurring Income
TAG: