Kadin dan Apindo Ungkap Persiapan Pengusaha Merespons Permintaan Ramadan - Idulfitri



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bulan Ramadan - Idulfitri menjadi momentum bagi industri dan dunia usaha untuk mendongkrak kinerja. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan persiapan pelaku industri dan para pebisnis menyambut pertumbuhan permintaan dari Ramadan - Idulfitri 2026.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa, mengungkapkan bahwa Ramadan - Idulfitri memberi dampak positif terhadap aktivitas industri dan perdagangan domestik. Terutama bagi sektor yang langsung terkait konsumsi rumah tangga seperti makanan - minuman, ritel, fesyen, transportasi, logistik, dan kemasan.

Secara historis, produksi dan distribusi akan naik beberapa minggu sebelum Ramadan, lalu terjadi normalisasi setelah Idulfitri. Untuk Ramadan – Idulfitri 2026, Kadin Indonesia memperkirakan utilisasi produksi dan permintaan tetap meningkat secara musiman, namun lebih selektif dan terukur.


Peningkatannya sangat bergantung pada daya beli di awal 2026, stabilitas nilai tukar, serta biaya input seperti energi dan logistik. "Tahun ini, posisi Tahun Baru Imlek yang berdekatan dengan Ramadan berpotensi menciptakan penumpukan momentum konsumsi pada awal tahun," kata Erwin kepada Kontan.co.id, Minggu (1/2/2026) malam.

Baca Juga: PalmCo Cetak ROA 7,9% Tahun 2025

Meski begitu, pelaku industri mencermati eskalasi geopolitik global, fluktuasi kurs, dan kondisi ekonomi pada awal 2026. Menimbang dinamika tersebut, strategi dunia usaha cenderung prudent dan adaptif untuk memperkuat manajemen risiko kurs, efisiensi biaya, penyesuaian kontrak pengadaan, serta diversifikasi sumber pasokan.

"Catatan Kadin adalah pentingnya menjaga stabilitas harga energi, kelancaran logistik, dan impor bahan baku serta barang modal produktif agar produksi untuk memenuhi lonjakan musiman tidak terganggu," imbuh Erwin.

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menyoroti periode Ramadan - Idulfitri sebagai salah satu momentum penting dalam siklus ekonomi domestik Indonesia, karena menjadi penggerak peningkatan konsumsi rumah tangga. Dampaknya paling nyata dirasakan oleh sektor-sektor usaha yang langsung bersentuhan dengan permintaan masyarakat, seperti makanan dan minuman, ritel, fesyen, transportasi, logistik, serta akomodasi hingga pariwisata.

"Kenaikan permintaan pada periode Ramadan - Idulfitri bersifat konsisten dari tahun ke tahun. Namun umumnya bersifat musiman dan tidak otomatis mencerminkan penguatan daya beli yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pelaku usaha cenderung meresponsnya melalui penyesuaian produksi yang bertahap dan terukur," kata Shinta kepada Kontan.co.id, Senin (2/2/2026).

Shinta menyoroti data dan indeks industri yang menunjukkan ekspansi pada awal tahun 2026. Berdasarkan data Survei Bank Indonesia, kapasitas produksi terpakai rata-rata berada di kisaran 73,15%, yang menunjukkan bahwa dunia usaha masih memiliki ruang untuk meningkatkan utilisasi produksi tanpa menghadapi tekanan kapasitas.

Secara teknis dunia usaha siap menaikkan produksi menjelang Ramadan - Idulfitri, tetapi keputusan tersebut tetap sangat dipengaruhi oleh keyakinan terhadap permintaan riil. Di sisi lain, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Januari 2026 tercatat meningkat signifikan ke level 54,12.

Posisi IKI yang meningkat 2,22 poin secara bulanan terutama didorong oleh membaiknya variabel produksi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pelaku industri mulai mengintensifkan aktivitas produksi untuk mengantisipasi peningkatan permintaan menjelang Ramadan - Idulfitri.

Sejalan dengan itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia versi S&P Global Januari 2026  meningkat 1,4 poin ke level 52,6. Menunjukkan bahwa ekspansi pada output dan pesanan baru telah berlangsung secara berkelanjutan dalam beberapa bulan terakhir. 

"Penguatan ini terutama didorong oleh permintaan domestik, yang dalam konteks awal 2026 sangat erat kaitannya dengan kesiapan operasional dunia usaha dalam menyambut berbagai momentum musiman, tidak hanya Ramadan - Idulfitri namun juga Imlek," terang Shinta. 

Apindo memotret strategi pelaku usaha pada umumnya difokuskan menjaga kesinambungan pasokan dan kelancaran operasional, agar lonjakan permintaan dapat direspons tanpa menimbulkan tekanan pada supply chain. Sejumlah perusahaan telah mulai meningkatkan utilisasi produksi secara selektif, memperkuat perencanaan logistik, serta membangun persediaan untuk produk-produk dengan pola permintaan musiman yang kuat.

Catatan Shinta, dunia usaha juga menerapkan pendekatan yang prudent dan terukur dalam mengambil keputusan produksi dan bisnis. Menimbang laporan PMI Index S&P yang mencatat bahwa meskipun output dan pesanan baru meningkat, dunia usaha masih menghadapi tekanan biaya input serta berbagai dinamika berusaha, sehingga efisiensi operasional tetap menjadi fokus utama.

"Selain itu, keputusan ekspansi tenaga kerja dan investasi jangka panjang masih dilakukan secara selektif, mencerminkan kehati-hatian terhadap prospek permintaan pasca Idulfitri," imbuh Shinta.

Kehati-hatian ini juga dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan domestik, seperti eskalasi ketegangan geopolitik global, volatilitas nilai tukar, serta kondisi daya beli masyarakat di awal 2026 yang masih perlu dijaga. Pelaku usaha melakukan berbagai langkah mitigasi, mulai dari pengamanan bahan baku, penguatan manajemen cash flow, hingga penyesuaian strategi harga dan promosi agar tetap terjangkau oleh konsumen.

"Catatan utama dari dunia usaha adalah bahwa momentum Ramadan-Idulfitri perlu dijaga agar tidak berhenti sebagai lonjakan siklus musiman semata, melainkan dapat memberi dampak nyata bagi ekonomi riil secara berkelanjutan," tandas Shinta. 

Baca Juga: Pelaku Usaha Indonesia Dorong Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik melalui ABAC

Selanjutnya: Investor Emas Waspada! Harga Logam Mulia Anjlok Drastis

Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (3/2), Hujan Sangat Deras Guyur Provinsi Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News