KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana Danantara membentuk BUMN baru di sektor tekstil dinilai dapat menjadi momentum untuk memperkuat investasi industri tekstil nasional. Namun, pemerintah perlu memastikan kehadiran perusahaan pelat merah tersebut tidak menggeser peran investasi swasta yang selama ini menopang industri tekstil. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Erwin Aksa mengatakan, investasi besar di sektor tekstil pada dasarnya dapat memberikan dampak positif apabila diarahkan untuk memperkuat struktur industri dari hulu hingga hilir.
Baca Juga: Danantara Bakal Bentuk BUMN Tekstil Baru, Gandeng Perusahaan Eksisting “Investasi sebesar US$ 6 miliar tentu sangat signifikan. Namun yang penting bagi dunia usaha adalah kehadiran BUMN baru ini jangan sampai menciptakan
crowding out terhadap perusahaan swasta yang sudah berinvestasi dan menyerap tenaga kerja selama bertahun-tahun,” ujar Erwin kepada Kontan, Rabu (23/9/2026). Sebelumnya, CEO Danantara Rosan Roeslani menyampaikan rencana pembentukan perusahaan baru yang akan menjadi bagian dari pengembangan industri tekstil. Perusahaan tersebut juga akan diarahkan untuk terintegrasi dalam satu kawasan dari hulu hingga hilir dan terbuka untuk bermitra dengan perusahaan tekstil yang sudah ada. Menurut Erwin, model pengembangan tersebut sebaiknya tidak membuat BUMN mengambil seluruh rantai bisnis tekstil. Sebaliknya, Danantara dapat berperan sebagai katalis dan integrator melalui pembangunan kawasan, infrastruktur, bahan baku, teknologi, energi hingga pengolahan limbah.
Baca Juga: Danantara Segera Bentuk BUMN Tekstil Baru, Buka Peluang Gaet Perusahaan Eksisting Dengan begitu, perusahaan swasta dapat masuk sebagai tenant, mitra maupun bagian dari rantai pasok. Erwin menilai investasi Danantara juga berpotensi menarik investasi swasta baru. Bahkan, keberhasilan proyek tersebut semestinya tidak hanya diukur dari besarnya investasi Danantara, tetapi juga dari investasi swasta tambahan yang mampu masuk. “Kalau kawasan tersebut mempunyai infrastruktur yang baik, energi kompetitif, teknologi modern, pengolahan air dan limbah yang memenuhi standar internasional serta akses logistik yang efisien, maka investasi Danantara bisa menurunkan entry barrier bagi investor swasta,” jelasnya. Ia menambahkan, investasi baru juga perlu diarahkan untuk meningkatkan ekspor dan substitusi impor bahan baku maupun intermediate goods. Sebab, jika hanya menambah kapasitas untuk memperebutkan pasar domestik yang sama, industri berisiko menghadapi kelebihan kapasitas dan tekanan terhadap perusahaan yang sudah ada. Di sisi lain, Erwin menilai pemberian insentif fiskal juga harus menerapkan prinsip perlakuan yang setara antara BUMN dan swasta. Hal ini sejalan dengan langkah pemerintah yang tengah mempertimbangkan kembali pemberian tax holiday bagi industri tekstil. “Insentif sebaiknya diberikan berdasarkan jenis investasi, nilai investasi, teknologi, penciptaan lapangan kerja, orientasi ekspor dan kontribusinya terhadap rantai pasok nasional, bukan berdasarkan apakah investornya BUMN atau swasta,” katanya.
Baca Juga: Rencana Danantara Bentuk BUMN Tekstil Terintegrasi Disorot, Ini Sederet Catatannya Menurut Erwin, apabila proyek Danantara memperoleh fasilitas tertentu, perusahaan swasta yang memenuhi kriteria serupa juga semestinya mendapatkan akses terhadap fasilitas yang setara. Kadin juga mendorong agar insentif tidak hanya menyasar investasi greenfield. Perusahaan tekstil existing yang melakukan ekspansi, peremajaan mesin, digitalisasi, efisiensi energi maupun transformasi menuju green textile juga perlu memperoleh dukungan. “Danantara sebaiknya menjadi multiplier bagi investasi swasta, bukan menjadi substitusi terhadap investasi swasta,” pungkas Erwin. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News