Kadin: Kenaikan Biaya Produksi Tekan Daya Saing Industri RI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Daya saing industri nasional masih menghadapi tekanan seiring kenaikan sejumlah komponen biaya produksi. Mulai dari harga bahan baku, energi, hingga biaya logistik yang berpotensi menggerus margin pelaku usaha.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin mengatakan, kenaikan biaya produksi menjadi tantangan bagi industri nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.

"Kadin melihat daya saing industri nasional masih menghadapi tekanan yang cukup besar akibat kenaikan harga bahan baku, energi, dan biaya logistik," ujar Saleh kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).


Baca Juga: Menilik Prospek Bisnis Tangki Bitumen Usai Prajogo Pangestu Masuk

Menurut dia, struktur biaya produksi Indonesia perlu lebih kompetitif dibandingkan negara pesaing, khususnya di kawasan ASEAN.

Jika tidak diantisipasi, tekanan biaya dapat menggerus margin usaha, menekan investasi, serta mengurangi daya saing produk Indonesia baik di pasar domestik maupun ekspor.

Tekanan biaya juga berpotensi meningkat apabila terjadi kenaikan upah pada tahun depan. Saleh menilai kondisi tersebut terutama akan berdampak terhadap industri padat karya seperti tekstil, garmen, alas kaki dan furnitur.

"Kenaikan upah tahun depan berpotensi menambah tekanan terhadap biaya produksi, terutama pada industri padat karya seperti tekstil, garmen, alas kaki, dan furnitur," katanya.

Karena itu, penetapan upah perlu mempertimbangkan keseimbangan antara peningkatan kesejahteraan pekerja, produktivitas, dan kemampuan dunia usaha.

Di sisi lain, pemerintah perlu mengambil sejumlah langkah untuk menjaga daya saing industri. Kadin mendorong stabilisasi harga dan ketersediaan bahan baku, penyediaan energi dengan harga kompetitif, hingga penurunan biaya logistik.

Selain itu, kepastian regulasi dan kebijakan pengupahan yang mempertimbangkan kondisi ekonomi serta produktivitas sektoral juga diperlukan.

Baca Juga: Kesenjangan Pembiayaan UMKM Capai US$ 50,8 Miliar per Tahun, Ini Tantangannya

Menurut Saleh, pemerintah juga perlu memperkuat insentif bagi pelaku industri untuk melakukan modernisasi mesin, otomasi, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.

Langkah tersebut dinilai penting agar peningkatan produktivitas dapat mengimbangi kenaikan biaya produksi sehingga beban tambahan tidak sepenuhnya diteruskan ke harga jual produk.

Sebagai tambahan informasi, daya saing Indonesia dalam IMD World Competitiveness 2026 merosot delapan peringkat ke posisi 48 dari 70 negara, setelah sebelumnya berada di posisi 40 pada 2025 dan sempat mencapai posisi terbaik ke-27 pada 2024.

Di Asia Pasifik, peringkat Indonesia juga turun dari posisi 8 menjadi 11 dari 15 negara. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News