Kadin meminta BI turunkan BI rate



JAKARTA. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Suryo Bambang Sulisto meminta Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan perbankan untuk mendorong dunia usaha di tengah situasi ekonomi yang melambat.

"Turunkan BI Rate, jangan pikirkan hanya sudut pandang BI, tapi lihat kepentingan semua sektor," katanya di sela-sela Rakernas dan Trade & Investment Forum, Senin (25/5).

Suryo mengatakan pihaknya turut prihatin dengan kondisi yang melanda perekonomian Indonesia belakangan ini. Tren pelemahan ekonomi global yang terjadi itu juga tidak luput terasa oleh dunia usaha.


Namun, tambah Suryo, faktor eksternal tersebut masih harus ditambah dengan tingginya bunga bank yang ditetapkan BI. "Bunga bank di Indonesia cukup tinggi, sedangkan di negara-negara tetangga bunga bank itu hanya separuh dari nilai yang berlaku di dalam negeri. Dari situ saja kita sudah lihat betapa tidak diuntungkannya posisi dunia usaha Indonesia," katanya.

Bunga bank yang tinggi, menurut dia, bisa membuat dunia usaha kelimpungan dalam menjalankan usaha di tengah melemahnya penjualan, produksi hingga ekspor.

"Saat ini semuanya melemah, sehingga kita sudah lihat banyak PHK. Maka pemerintah harus menyusun langkah untuk menetralisir keadaan ini dan agar situasi ini tidak berkelanjutan," katanya.

Oleh karena itu, Suryo meminta pemerintah untuk memberikan kebijakan dan strategi khusus serta insentif untuk membantu dunia usaha.

"Kalau BI Rate bisa diturunkan, ya turunkan. Tidak perlu terlalu memikirkan sudut pandang BI karena kita harus melihat secara holistik kepentingan semua sektor. Memang ada risiko, tapi kadang risiko itu perlu kita ambil kalau ingin menyelamatkan ekonomi secara keseluruhan," pungkas Suryo.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19 Mei 2015 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,5%, dengan suku bunga Deposit Facility 5,5% dan Lending Facility pada level 8%.

"Keputusan tersebut sejalan dengan kebijakan moneter yang cenderung ketat untuk menjaga agar inflasi berada dalam sasaran 4 plus minus 1% pada 2015 dan 2016, serta mengarahkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat dalam kisaran 2,5-3% terhadap PDB dalam jangka menengah," kata Gubernur BI Agus Martowardojo.

Keputusan BI mempertahankan BI rate di level 7,5% tersebut adalah ketiga kalinya setelah pada Februari 2015 menurunkan tingkat suku bunga acuan dari 7,75% menjadi 7,5%. Faktor eksternal dan domestik menjadi pertimbangan BI menerapkan kebijakan moneter ketat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto