KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mewaspadai dampak penurunan produksi gula Thailand terhadap pasokan dan harga gula industri di dalam negeri. Meski demikian, kondisi tersebut dinilai belum otomatis memicu defisit gula untuk industri nasional. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Erwin Aksa mengatakan, industri makanan dan minuman nasional masih memiliki ketergantungan cukup besar terhadap gula impor, terutama gula mentah yang diolah menjadi gula rafinasi untuk kebutuhan industri. Namun, Indonesia tidak hanya bergantung pada Thailand. Berdasarkan data 2025, total impor gula Indonesia mencapai sekitar 3,92 juta ton. Brasil menjadi pemasok terbesar dengan sekitar 1,84 juta ton atau 47%, disusul Thailand sekitar 1,51 juta ton atau 38%.
Baca Juga: Madela Potentia (MDLA) Bukukan Pertumbuhan Penjualan 10,1% di Semester I 2026 "Thailand memang merupakan pemasok strategis, tetapi bukan satu-satunya sumber gula bagi industri Indonesia," ujar Erwin kepada Kontan, Selasa (8/9/2026). Untuk gula mentah atau
raw sugar, porsi pasokan bahkan lebih terdiversifikasi. Pada periode Mei 2025 hingga Februari 2026, sekitar 51% impor
raw sugar Indonesia berasal dari Brasil, 28% dari Thailand dan 21% dari Australia. Menurut Erwin, diversifikasi tersebut menjadi modal bagi Indonesia untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan dari Thailand. Sebelumnya, produksi gula Thailand diproyeksikan turun setidaknya 17% pada musim produksi 2026–2027 menjadi di bawah 10 juta ton, dari sekitar 12 juta ton pada musim sebelumnya. Penurunan produksi ini berpotensi memperketat pasokan gula global dan mendorong kenaikan harga. Erwin menilai, risiko yang lebih cepat dirasakan industri justru kenaikan harga gula dunia, bukan kelangkaan fisik.
Baca Juga: Pemerintah Bidik PLTS 100 GW, AESI Sorot Tantangan Bangun Proyek yang Bankable Harga kontrak berjangka gula dunia telah meningkat lebih dari 20% dalam sekitar satu bulan terakhir seiring kekhawatiran terhadap produksi Thailand dan kondisi cuaca di sejumlah negara produsen. "Kenaikan harga gula akan langsung meningkatkan
cost of goods, khususnya pada industri minuman,
confectionery, bakery, susu olahan, makanan ringan dan berbagai produk yang penggunaan gulanya cukup tinggi," katanya. Tekanan tersebut berpotensi lebih berat bagi pelaku usaha menengah dan kecil yang memiliki ruang lebih terbatas untuk menyerap kenaikan biaya bahan baku. Jika berlangsung lama, perusahaan menghadapi pilihan berupa penurunan margin, efisiensi atau reformulasi produk, hingga meneruskan sebagian kenaikan biaya kepada konsumen. Di sisi lain, Erwin menilai Indonesia memiliki ruang cukup besar untuk mengalihkan sumber pasokan. Brasil menjadi alternatif paling realistis karena saat ini sudah menjadi pemasok terbesar
raw sugar Indonesia. Australia juga menjadi pemasok penting. "Brasil, Australia, Thailand dan sumber lain harus menjadi bagian dari portofolio pasokan," ujarnya.
Baca Juga: Belanja Melalui Media Sosial Marak, Komisi Kreator Tembus Rp 422 Miliar Erwin mengingatkan, India juga memiliki kapasitas produksi gula yang besar. Namun, pasokan dari India sangat bergantung pada kebutuhan domestik dan kebijakan ekspor pemerintah setempat. Karena itu, industri tidak bisa hanya mengandalkan satu negara sebagai sumber alternatif. Dari sisi pelaku usaha, mitigasi dapat dilakukan melalui diversifikasi pemasok, kontrak pembelian jangka panjang, pengamanan persediaan dan pengaturan waktu pengadaan. Sementara itu, pemerintah perlu memperkuat sistem peringatan dini terhadap perkembangan produksi dan harga gula dunia. Dengan begitu, kebijakan impor dapat dilakukan lebih cepat sebelum terjadi pengetatan pasar. Terkait kemungkinan penambahan kuota impor, Kadin menilai pemerintah perlu menjamin kecukupan pasokan gula industri. Namun, penambahan kuota tidak harus dilakukan secara otomatis tanpa mempertimbangkan neraca kebutuhan dan stok. "Yang lebih mendesak adalah memastikan penetapan volume kebutuhan dilakukan lebih awal, izin impor diberikan tepat waktu, dan realisasi impor dapat dilakukan sebelum terjadi pengetatan pasar internasional," jelas Erwin. USDA memperkirakan kebutuhan impor raw sugar Indonesia pada musim 2026/2027 dapat meningkat menjadi sekitar 4 juta ton, dari estimasi 3,8 juta ton pada 2025/2026.
Jika neraca komoditas menunjukkan stok tidak mencukupi kebutuhan industri, pemerintah dinilai perlu memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan volume impor. Hal ini penting agar tambahan pasokan tidak baru diberikan ketika harga gula internasional sudah tinggi. Dalam jangka panjang, Erwin menilai penguatan produksi gula domestik tetap menjadi solusi utama. Pemerintah perlu meningkatkan produktivitas tebu, rendemen, kapasitas serta efisiensi pabrik gula nasional. "Indonesia tidak boleh terus-menerus rentan setiap kali terjadi gangguan produksi di Thailand, Brasil ataupun negara pemasok lainnya," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News