KAI Commuter Kembali Usulkan Impor KRL Bekas Jepang, Ini Alasannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter) kembali mengusulkan pengadaan kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang sebagai solusi sementara untuk menjaga kapasitas angkutan KRL Jabodetabek.

Langkah ini dibutuhkan karena lebih dari 90 rangkaian atau train set akan memasuki masa konservasi sepanjang 2026-2034.

Vice President Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda mengatakan pengadaan KRL bukan baru diperlukan untuk menjembatani kebutuhan sarana hingga industri perkeretaapian dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan tersebut.


Baca Juga: KAI Commuter Jajaki Pengadaan KRL Bekas Jepang untuk Tambah Armada Jabodetabek

"KRL bukan baru dari Jepang diperlukan sebagai solusi bridging untuk menjaga kecukupan kapasitas angkut hingga 10 tahun ke depan," kata Karina, kemarin.

Menurut dia, KAI Commuter tetap mendukung penguatan industri dalam negeri dan tidak melakukan impor KRL baru.

Pengadaan KRL bekas dari Jepang menjadi opsi sementara sembari meningkatkan kapabilitas dan kualitas produksi kereta di dalam negeri.

Selama masa transisi, KAI akan mendorong integrasi antara KAI, KAI Commuter dan PT Industri Kereta Api (INKA).

Integrasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan industri nasional dalam memenuhi kebutuhan sarana KRL.

Baca Juga: Wacana Impor KRL Bekas Mencuat, Kemampuan Produksi INKA Jadi Sorotan

KAI Commuter memperkirakan lebih dari 90 train set memasuki masa konservasi secara bertahap pada 2026-2034. Sebagian kebutuhan penggantian rangkaian untuk periode 2026-2027 telah dipenuhi melalui pengadaan KRL baru yang mulai dilaksanakan sejak 2024.

Pengadaan tersebut mencakup KRL produksi dalam negeri maupun KRL baru impor. Namun, KAI Commuter belum merinci berapa tambahan rangkaian yang masih dibutuhkan untuk menjaga kebutuhan operasional KRL Jabodetabek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News