KAI incar potensi bisnis lahan parkir



JAKARTA. Sejak berkecimpung mengelola lahan parkir sendiri mulai awal tahun, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai ekspansi. Lewat  anak usaha PT Reska Multi Usaha, perusahaan ini mencoba mengembangkan sistem pembayaran lewat kartu elektronik perbankan.

Rencananya kartu berlangganan multitrip (KTM) kereta komuter Jabodetabek juga bisa dipakai sebagai alat pembayaran jasa parkir di setiap area  stasiun. "Sistem  parkir elektronik ini bisa menekan kebocoran pendapatan selama ini dan memberikan efisiensi serta kenyamanan," kata Noor Hamidi, Direktur Utama Reska Multi, Kamis (24/7).

Noor memang berharap, sistem pembayaran parkir elektronik ini bisa menekan angka kebocoran. Ia memaparkan selama ini dengan menggunakan sistem pembayaran tunai sering kali pengguna jasa tidak membayar sesuai lamanya penitipan kendaraan. Sayang, ia tidak menyebut jumlah kebocoran uang parkir di KAI.


Ia juga optimistis sistem pembayaran anyar ini bisa membuat pendapatan KAI lebih tertata. Sebab, seluruh pemasukan uang berasal dari bank mitra KAI.

Saat ini, Reska Multi Usaha sudah menjalin kerjasama dengan beberapa perbankan. Seperti Bank Central Asia (BCA), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank BNI, dan Bank Mandiri. Perbankan yang digandeng sama persis dengan mitra pembayaran untuk tiket KRL.

Nantinya pembayaran parkir cara baru ini bisa dilakukandengan kartu Flazz BCA, kartu Brizzi BRI, kartu Topcash Bank BNI selain kartu e-money dari Bank Mandiri.

Meski proses sosialisasi sudah berjalan sejak awal Juli ini, hingga kini sistem pembayaran baru ini baru bisa terlaksana di 14 stasiun dikawasan Jabodetabek. Sedangkan sembilan stasiun tambahan lainnya bisa digunakan pada pertengahan Agustus nanti.

Reska Multi menargetkan, 80% pengguna KTM sudah membayar tiket parkir melalui sistem pembayaran elektronik. Lewat langkah ini, Reksa Multi berharap target pendapatan sebesar Rp 90 miliar sampai akhir tahun ini bisa tercapai.

Target ini meroket tiga kali lipat dibandingkan denganpendapatan tahun lalu yang senilai Rp 22 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan