KAI Integrasikan INKA, Targetkan Pemenuhan 156 Rangkaian KRL hingga 2040



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kereta Api Indonesia (Persero) memulai proses integrasi strategis dengan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA sebagai bagian dari penguatan ekosistem industri perkeretaapian nasional. Langkah tersebut dinilai penting untuk menyelaraskan kebutuhan sarana perkeretaapian dengan kapasitas produksi manufaktur dalam negeri.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan integrasi KAI dan INKA membuka peluang bagi pengembangan industri manufaktur kereta api nasional. Menurutnya, kebutuhan sarana dalam jangka panjang memerlukan perencanaan yang lebih terhubung antara KAI sebagai operator dan INKA sebagai produsen.

"Integrasi KAI dan INKA merupakan langkah besar untuk membangun ekosistem industri kereta api nasional yang semakin kuat. Proyeksi kebutuhan sarana perlu diterjemahkan ke dalam perencanaan desain, kapasitas produksi, pengujian, dan penyerahan produk yang lebih selaras," ujar Bobby dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (23/7/2026).


Baca Juga: Dukung Penerbangan Rendah Emisi, Pertamina Sambut Mandat Penggunaan SAF pada 202

KAI memperkirakan kebutuhan Kereta Rel Listrik (KRL) hingga 2040 mencapai sekitar 156 rangkaian. Proyeksi tersebut belum mencakup kebutuhan Kereta Rel Diesel (KRD), kereta api jarak jauh, lokomotif, maupun sarana angkutan barang.

Menurut Bobby, besarnya kebutuhan tersebut menunjukkan peluang pengembangan industri manufaktur nasional. Namun, pemenuhannya memerlukan peningkatan kapasitas produksi secara bertahap, penguatan penguasaan teknologi, kepastian kualitas, serta keselarasan antara kebutuhan operator dan kemampuan produsen.

"Kebutuhan sekitar 156 rangkaian KRL hingga 2040 memberikan gambaran besarnya peluang pengembangan industri ini. Angka tersebut belum mencakup kebutuhan Kereta Rel Diesel, sarana kereta api jarak jauh, lokomotif, serta sarana untuk layanan barang," katanya.

Ia menambahkan hubungan yang semakin terkoordinasi antara operator dan produsen diharapkan mampu memberikan kepastian terhadap proyeksi kebutuhan sarana, kesiapan produksi, hingga pengembangan produk yang sesuai dengan karakteristik layanan kereta api di Indonesia.

Bobby menilai sejumlah negara dengan industri perkeretaapian yang maju juga menerapkan model keterhubungan yang erat antara operator dan perusahaan manufaktur. Pola tersebut dinilai mampu menyelaraskan kebutuhan sarana, pengembangan teknologi, standardisasi produk, dan kapasitas produksi dalam jangka panjang.

"Semakin kuat industri manufaktur nasional, semakin besar kemampuan kami menyediakan sarana yang aman, andal, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ujarnya.

Baca Juga: XLSMART Bidik Percepatan Pemerataan Layanan 4G dan 5G Setelah Kantongi Spektrum Baru

Sebelumnya, KAI dan INKA memulai proses integrasi melalui kegiatan kick-off Integrasi KAI dan INKA. Senior Vice President Business Performance & Asset Optimization Cluster Logistic Danantara Asset Management Desty Arlaini mengatakan proses integrasi perlu diawali dengan penyamaan visi seluruh jajaran kedua perusahaan.

Menurut Desty, kepemimpinan, kepercayaan, dan budaya kerja menjadi faktor penting dalam proses integrasi. Setiap keputusan, kata dia, harus berorientasi pada penciptaan nilai tambah bagi pelanggan, perusahaan, pemegang saham, dan negara.

"Seluruh pimpinan perlu memiliki visi yang sama, membangun nilai bersama, dan menempatkan kebutuhan pelanggan sebagai orientasi utama. KAI dan INKA harus menjadi satu tim yang saling menghormati kompetensi masing-masing," ujar Desty.

KAI mencatat jumlah pelanggan KAI Group pada semester I 2026 mencapai 258,99 juta pelanggan atau meningkat 7,55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perseroan menilai pertumbuhan mobilitas tersebut perlu diimbangi dengan kesiapan kapasitas sarana agar keselamatan, keandalan, dan kenyamanan layanan tetap terjaga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: