Kaji Buyback Saham, Cermati Rekomendasi Saham Jasa Marga (JSMR)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mengkaji pembelian kembali saham atau buyback dinilai berpotensi meningkatkan laba per saham (EPS) dan memperkuat daya tarik saham perseroan.

Namun, rencana tersebut perlu mempertimbangkan kondisi keuangan Jasa Marga yang masih dibebani utang besar dan kebutuhan belanja modal untuk ekspansi jalan tol.

Jasa Marga membuka ruang kajian untuk melakukan buyback saham.


Corporate Secretary & Chief Administration Officer Jasa Marga, Trias Andriyanto, mengatakan, perseroan akan mengevaluasi opsi tersebut secara menyeluruh dengan tetap menjaga fundamental dan kesehatan keuangan perusahaan.

“Perseroan selalu mengutamakan prinsip kehati-hatian serta tata kelola perusahaan yang baik dalam setiap langkah aksi korporasi,” ujar Trias dalam keterangan resmi, Rabu (21/10/2026).

Baca Juga: Jasa Marga (JSMR) Kaji Buyback Saham di Tengah Rencana Ekspansi Jalan Tol

Hingga kini, Jasa Marga belum mengungkapkan sumber pendanaan, nilai buyback, maupun jadwal pelaksanaannya. Perseroan menyatakan akan menyampaikan perkembangan rencana aksi korporasi sesuai dengan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku.

Tim Riset KISI Sekuritas menilai, rencana buyback menarik jika dilihat dari valuasi saham JSMR. Pada harga Rp 2.470 per saham, JSMR diperdagangkan pada rasio price to book value (PBV) sekitar 0,48 kali dan price to earnings ratio (PER) sekitar 4,7 kali.

Valuasi tersebut menunjukkan harga saham JSMR berada jauh di bawah nilai bukunya. Jika buyback dilakukan dan saham yang dibeli kembali disimpan sebagai saham treasuri, jumlah saham beredar akan berkurang sehingga berpotensi meningkatkan EPS.

 
JSMR Chart by TradingView

KISI menilai dampak buyback terhadap kinerja keuangan kemungkinan tidak terlalu besar, tetapi dapat memberikan sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek perusahaan.

Dengan kepemilikan negara sekitar 70%, porsi saham publik atau free float JSMR diperkirakan sekitar 30%, masih di atas batas minimum 12,5%.

Meski demikian, ruang buyback perlu dibatasi agar tidak mengganggu kebutuhan pendanaan. Jasa Marga memiliki liabilitas sekitar Rp 100 triliun dan arus kas sekitar Rp 7 triliun, sementara belanja modal masih dibutuhkan untuk pengembangan jalan tol.

Baca Juga: Jasa Marga (JSMR) Transaksi Shareholder Loan Rp 6,54 Triliun, Ini Tujuannya

Karena itu, KISI memperkirakan nilai buyback yang wajar berada di kisaran Rp 250 miliar hingga Rp 500 miliar, setara sekitar 1,5%–3% saham. Nilai tersebut dinilai cukup untuk memberikan sinyal positif kepada pasar tanpa membebani pendanaan proyek.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, juga menilai buyback berpotensi memperbaiki sejumlah rasio keuangan JSMR.

Selain meningkatkan EPS, pengurangan jumlah saham beredar dapat mendongkrak rasio return on equity (ROE), bergantung pada struktur transaksi dan penggunaan saham hasil buyback.

Menurut Nafan, aksi tersebut akan menarik jika dilakukan ketika valuasi PBV berada di bawah kisaran 0,8–1 kali, dengan alokasi dana ideal Rp 200 miliar–Rp 500 miliar.

Dari sisi operasional, prospek Jasa Marga hingga 2027 dinilai masih ditopang pertumbuhan trafik kendaraan, penyesuaian tarif tol berkala, serta kontribusi ruas-ruas baru.

Pendapatan tol perseroan tumbuh sekitar 7% hingga semester I-2026 menjadi Rp 9,51 triliun, sedangkan laba bersih naik tipis 2% menjadi Rp 1,91 triliun.

Baca Juga: Jasa Marga (JSMR) Transaksi SHL Rp 6,54 Triliun, Simak Rekomendasi Sahamnya

Momentum libur Natal dan Tahun Baru 2026/2027 serta mudik Lebaran 2027 juga berpotensi menopang trafik. Selain itu, penyesuaian tarif berdasarkan inflasi di ruas strategis, termasuk Trans-Jawa dan Jabodetabek, dapat mendukung pertumbuhan pendapatan.

Strategi asset recycling melalui divestasi atau penataan portofolio aset juga berpeluang membantu memperkuat struktur permodalan.

Namun, JSMR tetap menghadapi tantangan berupa beban bunga di tengah suku bunga acuan yang masih 5,75%, kebutuhan belanja modal yang besar, serta waktu yang diperlukan ruas tol baru untuk mencapai trafik optimal.

Tekanan jual saham BUMN terkait isu MSCI juga menjadi sentimen negatif bagi saham perseroan.

Nafan menilai fundamental JSMR masih menjanjikan untuk jangka menengah hingga panjang.

Meski demikian, ia merekomendasikan sell on strength, yakni menjual saham saat harga menguat, karena katalis kenaikan dalam jangka pendek masih terbatas selama suku bunga belum turun.

Baca Juga: Jasa Marga Ungkap Daftar Jalan Tol Baru yang Siap Beroperasi

Sementara itu, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, melihat pertumbuhan trafik, penyesuaian tarif, dan kontribusi ruas baru sebagai penopang kinerja JSMR hingga 2027.

Menurut dia, perbaikan arus kas dan profitabilitas menjadi kunci untuk memperkuat fundamental perseroan.

Elandry merekomendasikan accumulative buy untuk saham JSMR dengan target harga Rp 3.000–Rp 3.500 per saham hingga 2027.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News