KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Piala Dunia FIFA 2026 tinggal menyisakan laga final yang mempertemukan Argentina dan Spanyol. Euforia turnamen yang berlangsung selama sebulan terakhir tak hanya menghadirkan tontonan bagi masyarakat, tetapi juga membawa dampak ekonomi bagi berbagai sektor usaha di Indonesia. Aktivitas menonton bersama, belanja perangkat elektronik, promosi produk, hingga meningkatnya transaksi di sektor perhotelan, restoran, dan kafe menjadi bagian dari efek berganda yang ditimbulkan ajang olahraga terbesar di dunia tersebut. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan, rangkaian kegiatan Piala Dunia FIFA 2026 melalui aktivitas siaran (on-air) maupun berbagai kegiatan masyarakat
(off-air) menghasilkan perputaran ekonomi langsung dan tidak langsung lebih dari Rp 5,03 triliun.
Berdasarkan kajian Kadin Indonesia, nilai tersebut mencakup berbagai aktivitas ekonomi sejak masa persiapan hingga pelaksanaan turnamen. Kontribusinyadari aktivitas penyiaran dan belanja iklan, sponsorship, promosi produk, peningkatan penjualan perangkat elektronik dan merchandise, transaksi di sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka), kegiatan nonton bareng, hingga penjualan UMKM dalam berbagai kegiatan termasuk Festival Rakyat 2026. Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah, Kukrit Suryo Wicaksono mengatakan, Piala Dunia 2026 menjadi contoh bagaimana ajang olahraga internasional mampu menggerakkan aktivitas ekonomi lintas sektor.
Baca Juga: Dashboard Sinkopdes Jadi Alat Kemenkop Petakan KDKMP yang Perlu Pendampingan "Piala Dunia 2026 tidak hanya memberikan manfaat bagi perusahaan besar dan pemilik merek nasional, tetapi juga menghadirkan peluang ekonomi bagi hotel, restoran, kafe, pedagang makanan, pelaku industri kreatif, penyedia jasa, hingga UMKM di berbagai daerah," ujar Kukrit, Sabtu (18/7). Menurut Kukrit, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa ajang olahraga berskala global dapat menciptakan manfaat ekonomi yang luas ketika didukung kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga penyiaran publik, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat. Kadin merinci, sekitar Rp 1,76 triliun berasal dari aktivitas promosi produk melalui iklan on-air, Rp 850 miliar dari kegiatan komersial off-air, sekitar Rp 2,4 triliun dari sektor horeka, serta kontribusi ekonomi dari berbagai kegiatan termasuk Festival Rakyat 2026. Selain perputaran ekonomi langsung sebesar Rp 5,03 triliun, Kadin menilai, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 juga berpotensi menciptakan efek pengganda ekonomi. Hal itu didorong oleh investasi pelaku usaha pada perangkat televisi, proyektor, set-top box, sistem audio, penambahan kapasitas tempat duduk, hingga fasilitas layanan makanan dan minuman. Menurut Kadin, dampak tersebut sejalan dengan pertumbuhan sektor penyediaan akomodasi, makanan, dan minuman yang tumbuh 13,14% secara tahunan pada triwulan I-2026, menjadikannya salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi. Sementara itu, survei Lokadata terhadap 1.176 responden di 10 wilayah Indonesia pada 7–13 Juli 2026 menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat selama penyelenggaraan Piala Dunia. Sebanyak 78,1% responden mengikuti kegiatan nonton bareng sedikitnya satu kali selama turnamen, dengan rata-rata pengeluaran sekitar Rp 51.000 setiap kegiatan atau sekitar Rp 145.000 per orang sepanjang turnamen.
Chief Data Officer Lokadata, Suwandi Ahmad, mengatakan hasil survei tersebut menunjukkan sentimen positif masyarakat terhadap penyelenggaraan siaran Piala Dunia 2026 oleh TVRI sekaligus mengindikasikan manfaat ekonomi yang dirasakan hingga tingkat komunitas. Di sisi lain, Direktur Utama TVRI, Fiki Satari mengatakan, keberhasilan penyelenggaraan Piala Dunia tidak hanya diukur dari kualitas siaran pertandingan, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat. "Kepercayaan yang diberikan kepada TVRI sebagai penyiar resmi FIFA merupakan amanah yang kami jalankan untuk memastikan seluruh masyarakat Indonesia dapat menikmati Piala Dunia secara gratis," ujar Fiki. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News