Kalbe Farma (KLBF) Bukukan Laba Dua Digit, Ini Rekomendasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menunjukkan pertumbuhan solid sepanjang 2025. Emiten farmasi ini membukukan kenaikan pendapatan dan laba bersih, didorong oleh kontribusi sejumlah segmen usaha.

Berdasarkan laporan keuangan, KLBF mencatat pendapatan sebesar Rp35,32 triliun pada 2025, meningkat 8,26% secara tahunan (YoY) dibandingkan Rp32,62 triliun pada 2024.

Pertumbuhan pendapatan ini terutama ditopang oleh segmen distribusi dan logistik yang naik 12,01% menjadi Rp12,21 triliun. Selain itu, segmen obat resep juga tumbuh 11,00% menjadi Rp10,24 triliun.


Baca Juga: Garuda Maintenance Facility (GMFI) Mencatat Pertumbuhan Kinerja di 2025

Sementara itu, segmen produk kesehatan menyumbang pendapatan sebesar Rp4,82 triliun dan segmen nutrisi mencapai Rp8,04 triliun.

Sejalan dengan kenaikan pendapatan, beban pokok penjualan KLBF turut meningkat 8,12% menjadi Rp21,26 triliun. Kendati demikian, laba bruto perseroan masih tumbuh 8,47% menjadi Rp14,05 triliun.

Dari sisi profitabilitas, KLBF membukukan laba bersih sebesar Rp3,66 triliun pada 2025, naik 13,09% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,24 triliun. Kenaikan laba ini turut mendorong laba per saham menjadi Rp80,51 per saham, dari Rp70,16 per saham pada 2024.

Di sisi neraca, total aset KLBF tercatat sebesar Rp30,69 triliun hingga akhir 2025, meningkat dari Rp29,42 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini terutama ditopang oleh pertumbuhan aset lancar yang mencapai Rp18,50 triliun.

Sementara itu, total liabilitas meningkat menjadi Rp5,97 triliun dari Rp4,83 triliun pada 2024. Adapun ekuitas perseroan naik menjadi Rp24,72 triliun.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai kinerja KLBF tergolong solid, tercermin dari pertumbuhan laba dua digit di tengah dinamika daya beli masyarakat.

“Pertumbuhan laba dua digit ini menunjukkan ketahanan bisnis dan efisiensi operasional KLBF masih terjaga,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (2/4/2026).

Wafi menambahkan, pertumbuhan KLBF masih ditopang oleh segmen distribusi dan logistik seiring ekspansi fasilitas kesehatan domestik. Sementara itu, segmen obat resep juga berpeluang tumbuh berkat peningkatan utilisasi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan anggaran kesehatan.

Baca Juga: OJK Yakin MSCI Tak Turunkan Status Pasar Modal Indonesia Menjadi Frontier Market

Dari sisi margin, ia melihat prospeknya relatif stabil meskipun terdapat tekanan dari kenaikan biaya bahan baku impor.

“Kenaikan beban masih bisa dikompensasi melalui penyesuaian harga jual secara selektif serta fokus pada bauran produk bermargin tinggi seperti produk biologi dan onkologi,” jelasnya.

Likuiditas KLBF yang kuat juga dinilai menjadi modal penting untuk ekspansi. Dengan aset lancar mencapai Rp18,50 triliun, KLBF memiliki ruang untuk melakukan ekspansi organik maupun anorganik, termasuk penetrasi ke pasar ASEAN.

“Pasar seperti Filipina dan Vietnam masih menawarkan potensi pertumbuhan yang menarik bagi KLBF,” imbuh Wafi.

Senada, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai kinerja KLBF pada 2025 tergolong solid dengan kualitas yang cukup baik.

“Pertumbuhan laba bersih yang sejalan dengan kinerja operasional menunjukkan KLBF mampu menjaga keseimbangan antara ekspansi dan profitabilitas, didukung diversifikasi bisnis yang kuat,” katanya.

Ia menilai prospek segmen distribusi dan logistik serta obat resep masih berkelanjutan. Segmen distribusi diuntungkan oleh jaringan yang luas dan permintaan berulang, sementara obat resep didorong peningkatan akses layanan kesehatan.

Meski demikian, Azis tetap mencermati sejumlah risiko seperti tekanan biaya dan dinamika daya beli masyarakat.

Untuk rekomendasi, Wafi memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp1.750 per saham. Sementara Azis merekomendasikan hold dengan target harga Rp1.040 per saham.

Baca Juga: Loyo Sepekan Ini, Berikut Prediksi Rupiah Terhadap Dolar AS di Pekan Depan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News