Kalbe kejar kontribusi 25% dari bisnis minuman



JAKARTA. PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) mulai serius mengembangkan bisnis minuman kesehatan dan nutrisi. Emiten berkode saham KLBF ini menargetkan bisnis tersebut bisa menyumbang 25% terhadap pendapatan konsolidasi perusahaan.
Target tersebut tidak akan langsung dicapai di tahun ini. "(Target kontribusi divisi minuman kesehatan) tidak akan dicapai di tahun ini tapi dalam dua hingga tiga tahun mendatang," kata Vidjongtius kepada KONTAN, Selasa (10/7).
Keseriusan Kalbe mengembangan bisnis minuman kesehatan terjadi seiring selesainya akuisisi 100% saham PT Hale International. Untuk mengakuisisi produsen minuman kesehatan itu, Kalbe harus mengeluarkan dana senilai Rp 93,9 miliar.
Kalbe memandang akuisisi Hale cukup strategis untuk mengembangkan bisnis minuman kesehatan. Soalnya, Hale sudah memiliki beberapa produk minuman kesehatan yang cukup dikenal pasar seperti "Original Love Juice".
Akuisisi Hale juga akan mempercepat ekspansi bisnis minuman kesehatan Kalbe. Maklum, Hale sudah memiliki pabrik yang mampu memproduksi 30 juta liter per tahun. Dengan demikian, Kalbe tidak perlu mengeluarkan investasi maupun waktu tambahan untuk membangun pabrik minuman kesehatan.
Selain akuisisi Hale, Kalbe juga melakukan strategi lain guna mengembangkan bisnis minuman kesehatan dan nutrisi. Pada 28 Juni 2012, Kalbe telah menandatangani kerjasama dengan PT Milko Beverage Industry (Milko) untuk membentuk perusahaan patungan yang bergerak di bidang manufaktur produk nutrisi.
Kalbe akan menguasai 51% saham perusahaan tersebut, sedangkan 49% sisanya akan dikuasai oleh Milko. Perusahaan patungan itu akan membangun pabrik produk nutrisi dengan investasi senilai Rp 100 miliar hingga Rp 150 miliar.
Kehadiran Hale maupun perusahaan patungan dengan Milko memang tidak akan langsung memberikan kontribusi kepada laporan keuangan Kalbe di tahun ini.
Pasalnya, Kalbe akan terlebih dahulu melakukan pembenahan terutama dari sisi strategi produk dan distribusi Hale.
Strategi tersebut membuat Hale baru bisa memberikan kontribusi terhadap pendapatan Kalbe pada tahun 2013 mendatang. Targetnya, Hale bisa memberikan kontribusi pendapatan senilai Rp 100 miliar di 2013.
Sementara perusahaan patungan dengan Milko juga tidak bisa langsung beroperasi di tahun ini. Soalnya, pembangunan pabrik nutrisi tersebut baru selesai dalam tempo satu hingga dua tahun ke depan. Dengan demikian, Kalbe baru bisa mengoperasikan pabrik pada akhir 2013 atau tahun 2014 mendatang.
Kondisi tersebut membuat Kalbe tidak terlalu berharap banyak dengan kontribusi divisi minuman kesehatan dan nutrisi di tahun ini. "Kontribusi masih kecil sekali. Diharapkan kontribusi akan lebih material dalam dua hingga tiga tahun ke depan," ungkap Vidjongtius.
Dengan demikian, Kalbe akan tetap mengandalkan kontribusi lama seperti obat resep, produk kesehatan, dan distribusi & logistik guna mencapai target kinerja keuangan. Tahun ini, Kalbe mengincar pertumbuhan penjualan 18%-20% menjadi Rp 12,88 triliun hingga Rp 13,09 triliun dari realisasi 2011 yang senilai Rp 10,91 triliun.
KLBF juga mengincar kenaikan laba bersih 15%-17% dari 2011 menjadi Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,73 triliun. Pada perdagangan Selasa (10/7), harga KLBF ditutup menguat 0,67% menjadi Rp 3.775 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Ruisa Khoiriyah