KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah meningkatkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menyusul lonjakan titik panas atau hotspot dalam sepekan terakhir. Wilayah yang berbatasan dengan Malaysia di Pulau Borneo itu kini menjadi salah satu fokus utama pemerintah untuk mencegah kebakaran meluas. Berdasarkan data laman pemantauan karhutla Sipongi Kementerian Kehutanan, terdapat 1.250 titik panas sepanjang pekan ini. Jumlah tersebut meningkat dari 1.187 titik pada pekan sebelumnya, dengan lebih dari 900 titik berada di wilayah Kalimantan.
Baca Juga: Prabowo Targetkan Masalah Sampah Terkendali Dalam 2–3 Tahun, Jadi Prioritas Nasional Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan telah mengerahkan helikopter untuk melakukan patroli, operasi modifikasi cuaca melalui penyemaian awan, hingga water bombing untuk mengendalikan kebakaran. Operasi tersebut difokuskan di enam provinsi yang menjadi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. "Kalimantan menjadi prioritas penanganan karena peningkatan hotspot dan potensi meluasnya kebakaran," demikian penegasan pemerintah dalam upaya pengendalian karhutla. Untuk memperkuat penanganan di lapangan, hampir 13.000 personel telah dikerahkan ke tiga provinsi di Kalimantan. Mereka bertugas melakukan patroli sekaligus pemadaman kebakaran dari darat. Meski jumlah titik panas harian dalam beberapa hari terakhir menurun tajam, pemerintah mengingatkan kondisi tersebut belum berarti seluruh kebakaran telah padam. Kementerian Kehutanan menilai risiko karhutla masih tinggi, terutama pada periode kritis Agustus-September.
Baca Juga: Layer Baru Cukai Rokok Disorot DPR, Penegakan Hukum Jadi Prioritas Utama Data Kementerian Kehutanan mencatat, sepanjang Agustus hingga kini terdapat 3.736 titik panas. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan 758 titik panas yang tercatat sepanjang Juli. "Penurunan angka hotspot merupakan perkembangan positif dalam pemantauan kebakaran hutan dan lahan, tetapi tidak berarti seluruh api telah padam atau risiko karhutla telah berakhir," kata Kementerian Kehutanan dalam pernyataannya, Jumat (21/8). Ancaman karhutla juga masih berpotensi berlanjut karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Nino berlangsung hingga awal 2027. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran di sejumlah wilayah. Dampak karhutla sepanjang tahun ini juga semakin luas. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan lahan yang terdampak kebakaran mencapai 202.004 hektare pada Januari-Juli 2026. Luasan tersebut melonjak dari 107.465 hektare pada periode Januari-Juni.
Kabut asap akibat kebakaran di Indonesia bahkan telah berdampak ke negara tetangga. Pekan lalu, lebih dari 100 sekolah di Sarawak, Malaysia, ditutup untuk melindungi siswa dari memburuknya kualitas udara akibat asap kebakaran hutan dari wilayah Indonesia.
Baca Juga: Sertifikasi RSPO Jadi Kunci Petani Sawit Swadaya Tembus Pasar Global Di sisi lain, Kementerian Lingkungan Hidup juga melakukan inspeksi terhadap kebakaran di dalam area konsesi perusahaan kelapa sawit PT Bintang Harapan Palma di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, setelah menemukan sejumlah titik panas di kawasan tersebut. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News